Analisis Lapis Norma Roman Ingarden Sajak Doa untuk Anakku

Puisi yang Dianalisis

 

Doa untuk Anakku

Karya Emha Ainun Nadjib (1993:89)

 

Tuhanku,

Sebelum anakku sadar akan dirinya

Jadikan antara ia dan musuh-musuhnya

Dinding yang Kaujaga

 

Tetapi sesudahnya

Jangan segan Kauturunkan ujian

Agar ia gagah

Dalam melayani kehidupan

 

Tuhanku,

Kokohkan kedua kakinya

Yang berdiri di antara

Kemerdekaan dan belenggunya

 

Janganlah Kaumanjakan ia

Jangan Kauistimewakan kemurahan baginya

Agar cepat ia mengenali dirinya

Dan mengerti bahasa tetangganya

 

Hukumlah jika ia meminta kemenangan

Sebab, itu berarti

Mendoakan kekalahan

Bagi sesamanya

 

Tuhan,

Cambuklah punggungnya

Agar ia tahu bahwa ia butuh kawannya

Untuk melihat punggung yang tak nampak olehnya

 

Tuhanku,

Semoga atas nama-Mu

Ia mampu bergaul dengan-Mu

 

Salatiga 77

 

 

 

 

 

 

ANALISIS LAPIS NORMA ROMAN INGARDEN

SAJAK DOA UNTUK ANAKKU

KARYA EMHA AINUN NADJIB

Oleh: Pekik Nursasongko

  1. Latar Belakang Masalah

Membaca sajak Doa untuk Anakku karya Emha Ainun Nadjib (akrab dipanggil Caknun) seperti membaca ulang perjalanan Emha dalam meniti puncak kearifan. Seolah kita diundang untuk menjadi saksi perjalanan panjang tersebut. Emha yang semenjak umur sembilan tahun  kabur dari rumahnya, berjalan menyusuri rel di Jombang- Jawa Timur. Nyaris tidak ada institusi pendidikan yang belum pernah mengeluarkan seorang Emha dari kursi belajarnya, terakhir ia keluar dari Fakultas Ekonomi UGM karena lebih mencintai Universitas Mallioboro (PSK atau Pusat Studi Klub) bersama Umbu Landu Paranggi. Seorang penyair ‘aneh’ yang kini tinggal di Tabanan, Bali. Emha memiliki ratusan judul puisi, cerpen dan esai di berbagai antologi dan media massa. Nyaris semua tulisannya berkisah mengenai masyarakat dan hubungan (Emha sendiri atau masyarakat) dengan Tuhan.

            Tulisan-tulisan Caknun hampir selalu membuat kita tertawa terbahak-bahak atau setidaknya tersenyum masam. Namun setelah tawa dan senyum itu mencuat, kita akan dengan sangat mudah merenungi kembali tulisan tersebut. Seperti Sair Bonsai (1999:171), kita bisa tertawa membaca  Para kiai terbebas dari tugas-tugas besar/ Tinggal mengurus jam berapa sholat ashar/ Para ulama begitu pandai menyaring ayat/ Untuk mengukuhkan kebijaksanaan darurat. Tapi setelah itu tentu kita akan segera membandingkan kebenaran penggalan sajak tersebut dengan realitas yang terjadi di Indonesia.  Uniknya Emha jarang sekali menggunakan kata-kata wah seperti penyair pada umumnya untuk mencapai estetika. Jarang sekali atau mungkin tidak pernah ada tulisan Emha yang terlihat ada kesengajaan untuk dipoles seindah mungkin, dengan bahasa yang mendayu-dayu, atau dideotomatisasi habis-habisan. Seolah capaian estetika menggunakan kata super megah tidak menjadi ambisi bagi sastrawan yang satu ini.  Salah satu sajak buah pena Caknun yang memperlihatkan kematangan pemikiran adalah Doa untuk Anakku. Sajak tersebut sangat sederhana tapi juga sangat luar bahasa. Bagaimana doa yang merupakan bahasa ritual hubungan antara manusia dan Tuhan menjadi media kegelisahan Emha terhadap lingkungannya.

            Sajak Doa untuk Anakku akan dianalisis menggunakan lapis norma Roman Ingarden. Diharapkan dengan menelaah strata demi strata, kekayaan sajak akan menjadi uraian.

  1. Landasan Teori

Sajak Doa untuk Anakku  sebagaimana sajak pada umumnya terdiri atas beberapa lapis  (Strata). Setiap lapis akan menimbulkan lapislapis di bawahnya. Analisis Roman Ingarden di dalam bukunya Das Literarische Kuntswerk (via Rachmat Djoko Pradopo, 2002; 14-20) menyebutkan lima lapisan tersebut, yaitu lapis suara (Sound stratum), lapis arti (units of meaning), lapis ketiga, lapis keempat dan lapis kelima. Lapis bunyi

1. Lapis bunyi dalam sajak adalah semua satuan bunyi yang didasarkan atas konvensi bahasa tertentu. Lapis bunyi dalam puisi mempunyai tujuan untuk menciptakan efek puitis dan nilai seni. Mengingat Bunyi dalam sajak bersifat estetik yang berfungsi untuk mendapatkan keindahan dan tenaga ekspresif. Dengan kata lain bunyi juga memilki fungsi sebagai alat penyair untuk memperdalam ucapan, menimbulkan rasa, menimbulkan bayangan angan yang jelas, dan sebagainya.  Dalam sejarah puisi, bunyi pernah menjadi unsur kepuitisan yang paling dominan (utama) pada sastra Romantik (abad ke-18 dan 19). Bahkan Paul Verlaine, seorang simbolis, mengatakan bahwa musiklah yang paling utama dalam puisi. Slametmuljana menambahkan bahwa tiap kata (dalam puisi) menimbulkan asosiasi dan menciptakan tanggapan di luar arti yang sebenarnya. (Rachmat Djoko Pradopo, 2002; 22). Lapis bunyi terbagi atas Gaya ulangan bunyi, gaya kiasan bunyi, orkestrasi bunyi, dan irama.

2. Lapis Arti

Setiap diksi dalam puisi telah melalui pemilihan kata yang demikian ketat oleh penyair. Hal itu sangat mungkin disebabkan oleh pemadatan yang menjadi salah satu ciri puisi. Pemilihan diksi tersebut akhirnya mengakibatkan impresi tertentu pada pembacanya. Lapis arti (units of meaning) ialah arti yang terdapat dalam tiap satuan sajak. Mulai dari fonem, kata, kalimat dan seterusnya (Rachmat Djoko Pradopo, 2002: 17). Lapis arti terbagi dalam kosa kata, citraan, dan sarana retorika. Dengan menggunakan lapis ini arti dalam tiap diksi bisa semakin dekat dengan keobjektifan, tentu dengan dihubungkan dengan lapis-lapis lainnya.

3. Lapis ketiga

Berikutnya adalah lapis ketiga. Lapisan ini muncul setelah menganalisis lapis artis arti. Wujud dari lapis ketiga ialah objek-objek yang dikemukakan di dalam sajak, latar, pelaku dan dunia pengarang. (Rachmat Djoko Pradopo, 2002; 18).

4. Lapis keempat

Lapis pembentuk makna dalam sajak ialah lapis ‘dunia’ yang tak dinyatakan, namun sudah ‘implisit’ (Rachmat Djoko Pradopo, 2002; 18-19).

5. Lapis kelima

Terakhir dari lapisan pembentuk makna dalam puisi ialah lapis kelima. Lapisan ini disebut juga lapis metafisis yang menyebabkan pembaca berkontemplasi (Rachmat Djoko Pradopo, 2002; 19).

 

  1. Hasil Analisis

            Sebagaimana telah disebutkan di muka. Doa adalah sebuah bahasa ritual menyangkut hubungan antara manusia dengan Tuhan. Dalam wacana Islam doa merupakan media seorang manusia merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Dzat Yang Maha. Tempat manusia melepaskan semua ‘seragam’-nya dalam realitas harian. Ketika seseorang berdoa maka secara tidak langsung mengakui ketinggian Dzat yang diharapkan akan mengabulkan doa tersebut. Karena doa dilihat dari nilai rasa lebih tinggi daripada diksi ‘meminta’ dan ‘memohon’. Artinya ketika sebuah sajak menggunakan media bahasa ‘doa’, tentu akan memunculkan imajinasi tentang ketulusan dan kesungguhan akan sesuatu yang diminta secara langsung atau tidak.

Terlepas dari siapa Emha Ainun Nadjib dan bagaimana sajak Doa untuk Anakku menjadi mimesis dari kematangan pemikiran Emha. Pada bait pertama baris kedua sampai terakhir terdapat lapis bunyi irama dengan perulangan vokal a di akhir barisnya (selain kata Tuhan di awal baris). Sehingga menimbulkan nada yang apabila dibaca akan menimbulkan kesan kesakralan sajak.  Dalam bait pertama aku liris berdoa kepada Tuhan agar melindungi anaknya. Diksi ‘Dinding’ berarti jarak atau perbedaan antara anak aku lirik dengan musuhnya. Musuh dalam hal ini bisa diartikan dengan banyak kata, misalnya orang-orang yang berbeda atau bahkan musuh dalam arti sebenarnya.

Penggunaan diksi ‘Dinding’ sangat tepat dilekatkan pada baris tersebut. Dalam keseharian dinding adalah ‘pemisah’, antara ruangan satu dengan yang lain atau antara luar dan dalam pada suatu kontruksi bangunan. Dengan menggunakan diksi ‘dinding’ sebagai objek yang diminta si aku lirik agar tuhan menjaganya membuat sajak tersebut begitu kaya akan tafsiran. Sekaligus menimbulkan kesan keagungan Tuhan yang mendalam. Asumsi tersebut didasarkan pada pemaknaan kata ‘dinding’ sebagai sekat pemisah. Artinya apabila sesuatu dianggap mampu (dibuktikan dengan doa) untuk menjaga sekat pemisah artinya sesuatu tersebut lebih berkuasa antara dua sisi yang terpisah tembok sekaligus sesuatu tadi adalah pihak yang netral. Tidak pilih kasih antara sisi yang satu dengan sisi yang lain.

Pada bait kedua yang merupakan lanjutan dari bait sebelumnya, aku lirik berdoa agar Tuhan jangan segan menurunkan ujian supaya anaknya gagah melayani kehidupan. Sangat menarik ada seseorang yang meminta pada Tuhan agar jangan segan menguji anaknya, karena pada umumnya tentu orang tua lebih sering berdoa agar Tuhan tidak menguji terlampau berat atau bila perlu anaknya tak perlu di uji. Selain itu juga digunakan diksi ‘melayani kehidupan’ sebagai tujuan akhir setelah anak si aku lirik melewati ujian dari Tuhan. Diski tersebut adalah hiperbola meskipun memiliki dua pengartian yang saling bertentangan di dalamnya. Melayani kehidupan bisa jadi merupakan hiperbola karena ‘melayani kehidupan’ adalah sesuatu yang terlalu wah bagi tujuan hidup seseorang.  Bahkan bagi kebanyakan orang ‘melayani kehidupan’ adalah sesuatu yang sangat berlebihan untuk sebuah doa dan ambisi. Kedua, apabila dibaca berulang kali ada kesan baru yang akan diatangkap saat membaca bagian tersebut, yakni  sebuah ketulusan dan kearifan doa. Melayani kehidupan justru merendahkan diri serendah-rendahnya, bahkan digunakan diksi ‘melayani’,  karena seringkali yang muncul dalam wacana modern adalah menaklukan kehidupan.

Melayani kehidupan adalah ketulusan luar biasa seorang manusia karena untuk itu seseorang diharuskan menguasai ilmu ikhlas. Ikhlas untuk benar-benar membantu sesama dan seluruh makhluk. Karena yang dilayani adalah kehidupan, bukan segolongan manusia atau segolongan makhluk tertentu. Sangat erat dengan bait sebelumnya, setelah pada bait sebelumnya aku lirik mengakui kebesaran Tuhan maka dalam bait ini aku lirik menginginkan anaknya bisa meniru keMaha besaran Tuhan dengan melayani kehidupan.  Jika seseorang telah melayani kehidupan berarti ia telah menjdi seorang yang arif, tidak lagi memihak selain pada kebenaran. Namun untuk itu tentu dibutuhkan proses yang sangat panjang, itulah mengapa pada baris sebelumnya si aku lirik berdoa agar Tuhan tidaks egan menurunkan ujian bagi anaknya. Agar proses menuju pelayanan pada kehidupan cepat terselesaiakan.

Pada kata pertama bait ketiga (‘Tuhanku’) merupakan gaya ulangan bunyi bernama sajak awal. Karena diksi ‘Tuhanku’ juga digunakan pada awal bait pertama, keenam dan ketujuh. Selain penciptaan irama, pengulangan diksi ‘Tuhanku’ pada beberapa awal bait menyebabkan ekspresi yang sedemikian intens. Kata ‘Tuhanku’ yang muncul hingga beberapa kali jelas memberi penyangatan bahwa doa si aku lirik benar-benar sangat. Pembaca diajak langsung berkontemplasi dengan penyangatan tersebut.  Salah saru caranya adalah dengan menyebutkan kata ‘Tuhanku’ hingga beberapa kali. Selain menghasilkan pembaca yang diajak langsung berkontemplasi, pengulangan kata ‘Tuhanku’ juga memberikan makna bahwa kata tersebut luar biasa dan memberi arti sangat besar terhadap keseluruhan sajak. Sangat lain ketika diksi ‘Tuhaknku’ hanya digunakan sebanyak satu kali, di awal sajak misalnya. Impresi-impresi tersebut tentu tidak akan muncul karena tidak adanya intensitas pembacaan diksi yang sama. Intensitas penyebutan ditambah lagi dengan munculnya diksi ‘Kau’ dengan huruf K kapital sebagai kata ganti Tuhan yang diulang sebanyak tiga kali pada sajak Doa untuk Anakku. Sehingga memunculkan atmosfir spiritual dalam imajinasi pembaca.

Doa si aku lirik pada bait ketiga (kokohkan kedua kakinya yang berdiri di antara kemerdekaan dan belenggunya) berarti harapan agar Tuhan memberikan ketegaran atau ketahanan pada anak si aku lirik karena ia ada di antara kebebasan dan ketidakbebasannya. Manusia semenjak lahir telah memiliki kebebasan mutlak atas dirinya, namun di balik itu ia juga memiliki belenggu atas dirinya. Belenggu tersebut berupa ancaman dan peraturan dari agama, negara, lingkungan dan orang tuanya. Itulah mengapa setelah diksi ‘belenggu’ diberi pro nomina ‘nya’. Agar semakin jelas siapa yang menyimpan kemerdekaan dan belenggu itu. Kaki di sini tidak bisa ditafsirkan semata-mata sebagai kaki manusia dalam bahasa semiotik tingkat pertama. Karena kaki merupakan pars prototo (sebagian untuk keseluruhan) dari seluruh hal yang menjadi pijakan manusia. Mungkin ideologi, agama, keperayaan atau yang lainnya.

Ada sesuatu yang mencengangkan ketika membaca bait keempat sajak  Doa untuk Anakku. Aku lirik menggunakan diksi ‘jangan’ pada: Janganlah Kaumanjakan ia/ Jangan Kauistimewakan kemurahan baginya. Meskipun kata ‘jangan’ juga digunakan pada bai kedua, namun pada bait ini kata ‘jangan’ disebutkan hingga dua kali pada baris yang berurutan (biasa disebut gaya ulang bunyi sajak awal). Ada intensitas penyebutan di dalamnya mesk hanya dua kali penyebutan. Dalam realitas keseharian diksi ‘jangan’ memang bukan kata yang vulgar sebagai kalimat perintah, bedanya dalam konteks sajak Doa untuk Anakku diksi ‘jangan’ terdapat di tengah doa. Padahal sebagaimana telah disebutkan di awal doa merupakan ungkapan ketulusan dan kesungguhan. Hal ini mengindikasikan sesuatu yang teramat serius terlebih ketika membaca kata-kata berikutnya: aku lirik melarang Tuhan memanjakan dan mengistemawakan kemurahan untuk anaknya. Seolah penggunaan diksi ‘jangan’ dimaksudkan untuk memberikan penekanan pada hal yang diminta aku lirik. Tujuan penekanan tersebut terdapat pada baris berikutnya: Agar cepat ia mengenali dirinya/ Dan mengerti bahasa tetangganya.

            Diksi ‘mengerti bahasa tetangga’ merupakan simbol pluralisme. Simbol penghormatan terhadap orang atau makhluk lain. Karena sebagaimana kita maklumi bersama, bahasa merupakan alat satu-satunya makhluk melakukan interaksi. Tetapi sebelum mengerti bahasa tetangganya, aku lirik menginginkan agar anaknya mengenali dirinya terlebih dahulu dengan proses yang cepat. Artinya aku lirik menginginkan anaknya mengetahui seluruh kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya sampai ke hal-hal yang terkecil dalam dirinya. Asumsi tersebut didasarkan pada penggunaan diksi ‘kenal’ yang identik dengan proses seseorang menjadi tahu sesuatu dari yang sebelumnya sama sekali tidak tahu sesuatu tersebut. 

Kearifan yang luar biasa pada sajak Doa untuk Anakku adalah pada bait kelima: Hukumlah jika ia meminta kemenangan/ Sebab, itu berarti/ Mendoakan kekalahan/ Bagi sesamanya. Aku lirik sangat jelas pada bait tersebut meminta agar Tuhan menghukum anaknya bila ia meminta kemenangan. Padahal saat modernisasi semua bidang terus dikembangkan, orang-orang sibuk memenuhi ambisi untuk kemenangan pribadi. Bait yang juga mengingatkan pembaca untuk kembali berkontemplasi dengan kearifan lokal masyarakat Indonesia untuk peduli pada sesama dengan berbagai cara. Aku lirik benar-benar menginginkan anaknya untuk bisa melayani kehidupan, tidak memihak, meski terhadap dirinya sendiri. Bahkan si aku lirik berdoa agar anaknya tidak meminta kemenangan. Ringkasnya aku lirik benar-benar tidak menghendaki anaknya memiliki sikap egois. Sifat yang sangat bertentangan dengan kebiasaan baru sebagian masyarakat Indonesia, yaitu semakin asik berkejaran dengan waktu demi ambisi pribadi. Akhirnya menjadi barang langka pemandangan kerumunan orang membantu mendirikan rumah tetangganya tanpa bayaran. Sangat mungkin disinilah key word atau fokus kegelisahan si aku lirik hingga ia memohon Tuhan untuk menghukum anaknya bila ia meminta kemenangan.

Setiap bait pada sajak Doa untuk Anakku seolah memberikan pelajaran mengenai bagaimana menjalani kehidupan tetapi tanpa pembaca merasa digurui. Nyaris setiap bait memiliki setidaknya satu diksi yang penafsirannya bisa sangat luas. Tidak salah apabila ada yang berasumsi bahwa membaca sajak ini seperti diajak berkelana menyusuri kearifan hidup hingga akhirnya secara tidak sadar akan mempertanyakan kualitas hidup pribadinya. Misalnya pada baris terakhir bait keenam: Untuk melihat punggung yang tak nampak olehnya. Punggung bisa saja diartikan dengan menggunakan konvensi bahasa tingkat pertama, tetapi bila menggunakan sistem bahasa tingkat kedua ‘punggung’ bisa dimaknai dengan karakter, sifat, keangkuhan dan lain sebagainya yang kadang memang tidak kita sadari.

Usai mengajak pembaca berkontemplasi dengan banyak hal, sajak ditutup dengan sesuatu yang luar biasa: Tuhanku,/ Semoga atas nama-Mu/ Ia mampu bergaul dengan-MU.  –Mu pada baris terakhir tersebut menggunakan huruf M kapital yang mengacu kepada kata Tuhan. Bergaul dengan Tuhan dalam kerangka pemikiran sufistik Islam adalah tingkatan tertinggi seorang manusia dalam hubungannya dengan Sang Pencipta. Apabila seseorang mampu bergaul dengan Tuhan berarti ia telah bertakwa dan mampu merasakan kehadiran Tuhan. Penutup sajak ini begitu apik karena mampu menghadirkan atmosfir ketuhanan yang begitu sakral dengan kombinasi bunyi vokal, konsonan bersuara, bunyi liquida dan bunyi sengau. Sehingga menghasilkan bunyi yang merdu dan berirama.

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Nadjib, Emha Ainun. 1993. Sesobek Buku Harian Indonesia. Yogyakarta: Bentang

Pradopo, Rachmat Djoko. 2002. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

 

About these ads

6 thoughts on “Analisis Lapis Norma Roman Ingarden Sajak Doa untuk Anakku

  1. waduh waduh…prof dopo jangan dibikin pusing….santai aja…malah kalo males bisa gak masuk.hehehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s