Bukan Siapa yang Salah

BUKAN SIAPA YANG SALAH
Oleh: Pekik Nursasongko*

Sore 4 Maret 2007, kurang lebih pukul empat sore saya berniat kembali ke kos tempat saya tanggal. Betapa terkejut ketika tiba-tiba seorang polisi mendekat lantas menghentikan sepeda motor yang tengah saya kendarai. Karena memang saya merasa tidak mempunyai kesalahan. Usai polisi itu berbasa-basi sejenak, lantas beliu meminta saya menunjukkan surat-surat (tentu yang di kehendaki adalah SIM dan STNK). Tak lama kemudian ia pun menyatakan jika saya telah melanggar salah stau lampu merah di sebuah jalan. Untuk itu saya diminta ikut ke pos nya. Berhubung STNK dan SIM dibawanya serta. Padahal beberapa minggu yang lalu saya aman-aman saja melanggar lampu merah tersebut (walau ada polisi yang berjaga). Sesampainya di pos polisi terdekat, ia menjelaskan seputar kesalahan saya berikut dendanya. Awalnya saya memang diminta untuk mengikuti sidang di pengadilan atau membayar disebuah bank dengan jumlah Rp. 30. 000,-. Seperti biasa, saya minta untuk proses pembayarannya dilakukakan pada saat itu di tempat yang sama dengan jumlah uang Rp. 20. 000,-. Dan seperti biasanya pula, polisi itu langsung meminta saya menandatangani sehelai kertas. Prosedur berikutnya tentu saya mesti merelakan Rp. 20.000,- untuk polisi tersebut dan cerita selesai disini.
Itu barangkali sebuah cerita yang tidak asing bagi banyak kalangan soal hukum di Indonesia. Begitu mudahnya aparat hukum melepaskan orang-orang seperti saya. Bahkan dengan harga dibawah standar pengadilan yang seharusnya saya ikuti. Itu memang hanya polisi, aparat yang bisa kita sebut sebagai aparat hukum dengan kualifikasi di bawah pengadilan. Tetapi benarkah polisi dan aparat hukum lainnya itu murni bersalah?
Sepintas polisi tersebut memang melegalkan penyuapan, merugikan negara. Atau tidak salah juga bahwa tindakan tersebut adalah sebuah tindakan yang sedemikian memalukan. Mengingat slogan polisi adalah mengayomi dan melindungi masyarakat. Tetapi sayangnya permasalahan tidak sesederhana itu. Oke, polisi tersebut memang bersalah. Tetapi apa yang menyebabkan ia sampai hati menghianati seragam yang dikenakannya?
Polisi yang kemudian saya ketahui dari kesatuan Polres Sleman tersebut juga mempunyai anak dan istri (anggap saja demikian). Sementara kita tentu sudah faham berapa harga sekilo beras dan sekilo gula? Kita tentu mengerti bahwa biaya hidup benar-benar semakin melangit. Terlebih bila ia mempunyai anak yang tengah kuliah. Di Univestas Gadjah Mada yang pernah menjadi kampus rakyat saja biaya SPP-nya mencapai Rp. 500. 000,- per semester, ditambah biaya per-SKS mencapai Rp. 60. 000 (untuk non eksakta) dan Rp. 75 000,- (untuk eksakta). Belum untuk membeli pakaian, membayar listrik, membayar pajak, dan kebutuhan dasar lainnya. Sudah pasti akan bertambah biaya si bapak kita ini bila memenuhi hasrat manusiawinya untuk berwisata ke sebuah tempat bersama keluarganya.
Sementara itu, berapa gaji seorang polisi dengan pangkat seperti seorang polisi yang bertugas menjaga perempatan jalan dari orang-orang macam saya?
Pada lain sisi, Bapak Polisi ini juga manusia yang tentu saja mewarisi atau setidaknya mengerti sejarah dan kehidupan bangsa serta lingkungannya. Ia tentu sedikit banyak megerti tentang sebab-sebab Soeharto dan kroni-kroninya didemostrasi oleh jutaan mahasiswa. Tokoh kita ini kan juga mengerti tentang mengapa para petinggi hukum sampai didaulat oleh KPK (komisi Pemberantasan Korupsi) sebagai tahanan. Toh polisi-polisi seniornya juga melakukan hal yang sama ketika ia ada dalam posisi seperti saat menjadi pemburu dan hakim bagi kesalahan saya.
Di pihak lain saya juga enggan dinyatakan sebagai warga yang tidak tertib menjalankan prosedur hukum, memainkan praktik ‘suap kecil’.
Saya sebagai terdakwa juga mempunyai warisan budaya seputar ‘Rp. 20. 000’ tadi. Terlepas apakah saya memang murni bersalah atau tidak. Yang jelas pada saat itu saya tengah berhadapan dengan seorang polisi yang menjadikan saya sebagai ‘tikus’ dan polisi tersebut telah merubah dirinya sebagai kucing yang tengah menginjak ekor saya.
Ilustrasi di atas juga sangat mungkin untuk dianalogikan pada seribu, sejuta, atau bahkan pada semua orang di Indonesia yang melakukan suatu kesalahan universal. Sebuah kesalahan yang bagi mata siapapun adalah kesalahan mencuri, menggunakan badan jalan untuk berdagang atau bahkan praktek prostitusi. Karena umumnya kesalahan yang dilakukan orang Indonesia adalah kesalahan yang multi dimensi. Kesalahan yang tidak bisa dipandang cukup dengan satu prespektif ‘bahwa si anu tengah melakukan kesalahan dan harus dihukum sesuai dengan kesalahannya’. Seperti tidak bisa kita serta-merta menyalahkan bapak polisi yang menyatakan saya bersalah tadi sebagai penghianat seragamnya. Bukankah sedikit sekali kemungkinan manusia merugikan makhluk lain dengan sadar, bila dalam hidupnya telah merasa tentram dan memang tidak ada kesempatan untuk melakukan perbuatan tercela macam apapun.
Tetapi di negeri yang tecinta ini? Hanya sepersekian dari jumlah pendukuk yang memang telah dianggap layak dalam hidupnya. Sedangkan sisanya, membuat rumah di bawah jembatan, menjadi gelandangan atau bahkan menjadi pengemis (yang juga merangkap sebagai perampok). Pemerintahpun justru lebih senang dengan budaya instant untuk membuat wilayah regionalnya tertib, bersih dan teratur dalam berbagai dimensi. Dengan penangkapan WTS, impor beras saat harga beras menggila, penggusuran pedagang kaki lima dan berbagai cara lain yang bersifat instant. Yang sudah pasti tidak menyelesaikan masalah dalam jangka waktu lama dan tepat padatujuan semula.
Tetapi apakah pemerintah juga murni bersalah?
Bukankah pemerintah juga tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan yang telah ‘terlanjur’ hadir berbagai dimensi, dengan tempo yang sesingkat-singkatnya seperti yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945.

*Pekik Nursasongko, bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s