IKhlaS

Ikhlas  

Siapa yang tak kenal dengannya. Hanya enam huruf dalam bahasa Indonesia. Bahkan anak yang baru mulai berfikir saja bisa menjawab tentang apa itu ‘ikhlas’. Sebuah kata yang kesannya memang sangat-sangat basi dan kuno, nggak gaul blass (dengan ‘s’ double). Meskipun kata yang satu itu belum pernah diusulkan untuk digusur layaknya PKL.

Mayoritas orang yang saya temui mengatakan bila ikhlas sebagai sebuah sifat yang melekat pada suatu kegiatan (manusia) yang benar-benar tanpa tendensi. Meskipun rata-rata mereka menyebutkan bila manusia tetap dianggap ikhlas bila tendensinya adalah Tuhan. Yang Islam ngomong Allah SWT, yang Kristen ngomong Yesus, Yang Budha ngomong Budha Gautama dan Tuhan-tuhan lainnya. Agar landasan pacu kita sama, anggaplah ikhlas adalah seperti itu. Sebuah hal yang melekat pada apapun kegiatan manusia yang tanpa tendensi kecuali pada yang dianggap Tuhan. Sekalipun begitu apakah Ikhlas sangat sederhana? Seperti ketika anda mengerdipkan kelopak mata. Tanpa harus banyak mengeluarkan energi dan pikiran untuk melakukannya. Cukup mengorbankan sedikit kemauan dan waktu, terciptalah kerdipan itu. Selesai. Sesederhana itukah?

Jika memang pengertian kata ‘ikhlas’ hanya seperti landasan berfikir kita, rasanya memang sangat-sangat mudah melakukannya. Siapapapun bisa melakukannya. Sekedar contoh, tentu anda lebih paham dari saya soal bagaimana perasaan seorang laki-laki bila sedang jatuh cinta pada lawan jenisnya. Apapun permintaan kekasihnya, itu ada sabda pandita ratu. Sebuah perintah yang akan membawa petaka bila tidak bisa memenuhi permintaan tersebut. Bahkan  penampilan, kedewasaan dan nyaris semua yang dilakukan akan di-nisbat-kan untuk sang pujaan hati.Terlebih bila ia masih remaja. Maka (sesuai deskripsi kita tadi) lelaki ini sudah menguasai ilmu bernama ‘ikhlas’. Bukankah tuhan adalah sesuatu yang dinomersatukan?

Itulah repotnya. Kita sendiri masih sering menuhankan apapun. Jangankan soal cinta, boleh saya tahu mengapa anda tidak membunuh seseorang yang jelas-jelas membuat anda marah? Bila anda menjawab karena takut hukum, maka hukum adalah tuhan anda saat itu. Bila anda menjawab agama melarang saya, maka agama adalah tuhan anda saat itu. Bila anda menjawab takut neraka, apakah Tuhan anda neraka. Dan bila anda menjawab takut murka Tuhan. Cobalah untuk diam sejenak, tanyakan pada hati anda. Jangan-jangan yang anda takutkan sebenarnya bukan Tuhan tapi ‘Murka’ Tuhan. Artinya anda menuhankan kata sifat yang dilekatkan pada sesuatu yang anda sebut sebagai Tuhan.

Lantas bagaimana jika kita menjadikan kata ‘ikhlas’ hanya untuk Dzat yang Esa, Dzat yang Menguasai langit dan bumi. Maka semua yang anda lakukan tak hanya tidak boleh bertendensi pada seseorang dan materi. Namun juga nilai.

Saya sering memandang seseorang karena ia dalam stereotip kawan-kawan adalah baik. Wajah ayu, kulitnya putih, otaknya cerdas, suka menolong dan kritis. Apakah sebenarnya saya sudah ikhlas? Atau jangan-jangan tendensi saya adalah nilai ‘baik’ yang telah dilekatkan pada gadis itu.

   

Sekalipun demikian, benarkah kita bisa menguasai keikhlasan dalam diri kita. Lebih tepatnya dalam hati kita. Terutama tanpa tendensi nilai. Sedang kita setiap hari (semenjak kita lahir) seolah telah berpakaian nilai. Sejak kecil kita telah dibiasakan untuk patuh pada sebuah nilai. Bahkan dilekatkan pada jiwa raga kita sebuah ketakutan atau traumatik bila melawan nilai. Baik itu nilai yang diciptakan masyarakat atau lingkungan kita beraktifitas.

Bila Ikhlas memang sedemikian sederhana menurut anda, terimalah salam hormat saya (pekik).

One thought on “IKhlaS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s