-Mu?

-Mu?

Pena: Pekik Nursasongko

  

            Senja telah lama tenggelam, aku masih mengeja  wajah kekasihku tanpa seincipun terlupa. Telah beberapa hari parasnya tak lagi menghangatkan hatiku. Entah, di mana setan menyembunyikan senyum Alina. Atau malaikat yang telah melakukannya? Tiap kutemui, matanya terus menghujam satu titik di hadapannya. Entah apa. Padahal untuk merayunya kembali mengukir senyum dan tawa telah kuhabiskan seluruh kata dalam ingatanku .

‘Asu!’

Bahkan kemarin hanya kalimat itu yang  terdengar dari mulut gadisku. Setelah sebelumnya ia mendzikirkan kata ‘celeng’ bertubi-tubi. Kata yang seolah hendak menjadikanku santapan buka puasa, berbaris dengan ciuman hebat dan hangat yang menyatu. Meski aku terlalu terbiasa dengan mulutnya yang luar biasa, saat-saat ini aku benar-benar tak menyiapkan hati untuk menjemput celeng, asu atau babi. Pintaku sederhana, agar mata dan mulut Alina menjadikanku sebagai kekasih kembali. Seperti ketika kita baru saja menyelesaikan pertempuran ego dengan lapang dada. Setahun lalu. Pun parasmu masih saja menerkamku. Hingga melumat kelelakianku, setelah nyaris setengah tahun kusimpan air mata ini untuk senyummu.

Bayanganku bukan saat dimana kau terus memintaku untuk melakukan banyak hal dan aku selalu mengiyakan.  Sebab jika tidak menganggukan kepala pada tiap pinta yang berubah menjadi sabda di mataku, pasti kau akan menyatakan aku telah berpoligami dengan barantah. Tapi aku tak peduli dengan itu. Sumpah. Angan yang terukir di otakku kini hanyalah senyum tulusmu yang muncul tak lebih seminggu sekali.  Bila telah seperti itu ingin rasanya mendekapmu dalam tempo maksimal, sembari  menantimu mengucapkan sebuah kalimat sakral; aku mencintaimu. Barangkali karena senyummu yang langka itulah aku selalu merindukannya. Seperti rindu hidung kepada udara.  

“Kau harus tabah. Lelaki memang kebagian tugas untuk menjemput senyum para gadis. Walaupun aku mengakui senyum gadismu tak bisa di jemput sekadar dengan senyummu” kata seorang sahabat tempo hari.

Ucapan sahabatku  tentu mengingatkanku pada peristiwa di sebuah malam dimana kami melewatinya dengan tawa. Hingga saat aku tanpa sengaja melepaskan kunang-kunang Alina, mukanya langsung memerah. Ia langsung terbungkam. Seperti biasa, aku langsung menghujaninya dengan permintaan maaf. Tapi ia hanya terpaku, hanya satu kata yang mencuat dari bibirnya; ‘pulang’. Haruskah aku juga mengisahkan hal itu itu kepada sahabatku? Bukankah itu hanya akan membuat sahabatku berfikir bila hubungan kami seperti pergumulan dua anak TK?

Ketika Anto bertanya tentang apa yang menyihir wajahku menjadi lesu. Aku bertanya pada diriku, adakah jawaban yang lebih bijak dari menyembunyikan fakta? Aku tak ingin nama Alina tercoreng hanya karena ceritaku pada sembarang orang. Betapapun aku ingin bertutur pada tiap manusia di sampingku perihal sikap gadisku. Barangkali ada masukan berarti.

Alina. Apakah asu, celeng dan babi di mulutmu adalah simbol bahwa kau masih sangat mencintaiku? Kau yang masih ingin setia hanya untukku. Bukankah anjing, babi dan celeng adalah hewan yang setia pada tuannya? Atau jangan-jangan kau telah mencintai salah satu diantara mereka? Kurasa asumsi yang kedua lebih horor dari film hantunya Indonesia yang tidak horor. Namun apalagi yang harus ku imajinasikan untuk membenarkan binatang berkaki empat itu datang dari mulutmu, menangkap senyum tulus dari seorang aku.

Bulan masih nampak seperti perempuan tua menunggu lelakinya pulang bekerja. Kesepian atas kerinduan. Begitu melonkolis. Akankah aku akan menjadi bulan selanjutnya? Mengharap bintang yang belum pasti muncul. Padahal matahari telah siaga bersama ribuan amunisi cahaya. Kulangkahkan kakiku. Keluar menuju entah. Umpatan demi umpatan Alina membuatku begitu gelisah. Di tepi jalan raya puluhan muda-mudi tengah bercengkrama. Bersiap menikmati pergantian tahun. Tanpa peduli esok akan menyapa dengan masalah baru.

Alina. Apakah kini kau ingat kebersamaan kita tahun lalu? Di waktu yang sama tangan kita saling menggenggam. Lantas aku bertanya kepada mata syahdumu;

“Apakah kau masih mencintaiku esok?”

“Aku tak ingin berandai. Jika kini aku hanya bisa berjalan, maka aku akan tetap berjalan. Daripada memaksa terbang lantas merelakan air mata. Yang kutahu, kini aku mencintaimu” jawabmu indah.

“Aku juga”

“Apa?”

“Mencintaimu”

“Buktinya?”

Kuletakkan seratus rupiah di tangannya. Sejenak ia terpaku. Untuk kemudian melumatku dengan diam. Kuraba jemarinya. Ia masih bungkam. Membiarkan aku yang gelisah tanpa tahu mengapa.

Saat itu, tiba-tiba kau belari menembus jalanan yang padat oleh lalu-lalang terompet. Seperti hari-hari sebelumnya, kukerahkan yang tersisa. Berusaha mengejarmu. Setelah berhasil, kau menolak dipeluk oleh tubuhku yang dingin. Kutanya mengapa. Kau justru menghempaskan ragaku. Dalam satuan detik kubangkitkan tubuhku, berusaha meraihmu; agar tak mengayunkan kaki lebih keras. Kau pandang aku denga api. Akupun enggan kalah, segera kutusuk matamu dengan tatapan. Tatapan berisi setangkai kata maaf, sebuntal kerinduan dan seribu ketulusan yang terbalut dalam diam yang sempurna. Beserta ungkapan sayang yang kubuat lebih tulus dari hari sebelumnya. Namun saat itu kau hanya mematung. Tubuhmu seperti memilih dingin daripada menyatu denganku. padahal jika tubuh kita menyatu malam itu, kita bisa mencipta kehangatan baru.

. Dengan sedikit memaksa. Kubimbing kau untuk duduk di etalase toko. Kutanya mengapa. Awalnya kau masih bugkam. Usai kuhibahkan seratus satu rayuan, kaupun bersuara;

“Cintaku hanya kau hargai seratus rupiah? Kita putus”

Kini ganti aku yang terdiam.

Terdengar isak tangismu.

Dan deru ribuan terompet.

Waktu kubiarkan berlalu.

“Kau tahu. Mengapa aku memberimu seratus rupiah saat kau pinta bukti cinta?”

Ganti kau yang terdiam.

Kulihat air matamu masih muncul, meski kau seka berulang kali.

Kuraih jemarimu. Kugenggam erat-erat. Kemudian kuhapus air matamu dengan bibirku.

“Karena aku ingin mencintaimu sebisaku. Dan uang seratus itulah yang kini menghuni dompetku. Seorang diri. Tanpa kakak, saudara, orang tua, apalagi kakek-neneknya” kubisikkan tepat di telingamu.

Pelukan tak dapat dihindarkan. Bersama dentuman terompet dan kembang api yang membuncah.

Ketika itu, detik rasanya begitu cepat saat kau menatapku bersama senyuman. Senyuman tulus yang berhasil membuatku menyatakan kecantikanmu.

Itupun masih kau tutup dengan kata cinta, ketika kuhantar dirimu sampai di depan kosmu yang megah.

Malam itu, aku merasa berhasil menguasai dunia.

Tapi apa kau masih ingat saat-saat itu?

Mungkin memang hanya ribuan kesalahan dan kelemahanku yang bersemayam di otakmu. Yang kemudian mengubah  diri dalam diam sempurna.

Tak terasa dan tanpa kusengaja. Kakiku telah hadir tepat di ambang kosmu. Setengah jam aku mematung untuk memastikan langkah berikutnya. Antara menemuimu atau langsung pergi. Hingga akhirnya kuputuskan untuk mengeluarkan handphonku dan jemariku menekan-nekan tobol; memintamu menemuiku.

Belum genap sepuluh menit menanti. Tubuhmu telah menyapa mataku.

Kuhujani gadisku dengan tanya tentang keadaanynya.

Pun kebisuan masih menyapu diantara kami.

Aku kehabisan diksi.

Tiba-tiba tangan hangatmu menyentuh jemariku. Spontan kusambut jemarimu. Kulesatkankan mataku pada parasmu. Air mata mengalir dari wajahmu. Kutanya mengapa.

Kau hanya alirkan air dari matamu.

Aku berusaha menerka kata apa yang akan kau lesatkan setelah tangismu mereda. Akankah tiga nama binatang kembali kau haturkan untuk penantianku? Atau apa?

“Maafkan aku” katamu tanpa kuduga.

“Untuk apa?” tanyaku singkat.

“Untuk semuanya”

“Tak perlu kau pinta maaf dariku. Jika kau tersenyum. Tak ada yang lebih membahagiakanku dari itu”

Kemudian.

Ya. Saat itu bibirmu mengembang. Mencurahkan senyum untukku yang kehausan tulus wajahmu.

Dan wajahku tentu kembali hidup. Telah setahun terakhir aku tak merasakan kebahagiaan ini.

Akhirnya penantianku untuk senyummu terjawab. Tanganmu meminta tubuhku untuk merapat. Kita pun terlibat dalam aksi dramatis. Entah apa kau sebut ini. Yang jelas aku merasa begitu bahagia.

Membungkam adzan yang datang menyerbu. Menisbikan pasukan malaikat yang datang menjemputku. Padahal aku tahu diantara ratusan malaikat itu, Izroil bersamanya.

Sebab kusadari tanganmu tengah menggenggam belati.

Tapi aku masih begitu bahagia.

Untuk senyummu Alina.

                                                                        Saat matahari sepanggalah tingginya,

2 Okt 2007

2 thoughts on “-Mu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s