Alon-alon waton klakon

Membedah Alon-alon Waton Klakon:

Prinsip Hidup Masyarakat Jawa

Oleh: Pekik Nursasongko* 

 

Latar Belakang Masalah

            Alon-alon waton klakon adalah sebuah pepatah yang dimiliki Masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah dan Yogyakarta. Pepatah tersebut secara umum masih dipegang dengan erat oleh orang yang telah berumur (lebih dari 50 tahun), itupun penggunaaannya sebagai prinsip hidup tidak lagi seketat para leluhur Tanah Jawa. Asumsi tersebut didasarkan kepada wawancara sederhana dengan beberapa orang yang hidup di dua daerah tersebut. Alon-alon waton klakon dipercaya Masyarakat Jawa sebagai sebuah prinsip hidup yang sifat kepemilikannya bersifat turun temurun dan telah menjadi kearifan lokal Masyarakat Jawa selama berabad-abad.

            Sekalipun penggunaannya bersifat turun temurun beberapa dekade terakhir alon-alon waton klakon sudah semakin terpinggirkan oleh prinsip-prinsip kapitalis yang selalu mengandaikan ‘cepat dan terlaksana dengan baik’. Tentu saja di antara keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masinng-masing, namun apabila dicermati lebih dalam ada tujuan yang sangat berlainan dari keduanya. Dan perbedaan tersebut sebenarnya sangat prinsipil menyangkut arah hidup manusia.

            Makalah ini akan membedah pepatah alon-alon waton klakon sebagai sebuah prinsip hidup beserta beberapa perbandingan  dengan pola hidup Masyarakat Jawa pada umumnya. Data-data yang ada dalam makalah ini adalah hasil impresi penulis dari  pengamatan dan pengalaman sebagai orang yang hidup dan memiliki keturunan Jawa dan beberapa bacaan yang sudah tidak dapat dilacak lagi.

 Pengertian Alon-alon Waton Klakon

            Alon-alon waton klakon dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan dengan ‘pelan-pelan asal terlaksana’. ‘Alon’ adalah pelan, berlahan (tapi pasti), sabar, teliti, cermat ketika melakukan sesuatu. ‘Waton’ ialah asal atau yang penting, sedangkan ‘klakon’  adalah terlaksana. Terlaksana di sini tentulah terlaksana dengan sebaik mungkin. Sehingga secara ringkas dapat dikatakan bahwa alon-alon waton klakon merupakan Prinsip yang menganjurkan kepada orang untuk melakukan sesuatu dengan secermat mungkin, seteliti mungkin, tidak gegabah, tidak terburu-buru sehingga hasil yang dicapai dapat maksimal.

            Dari tataran bahasa digunakan diksi alon-alon waton klakon sangat mungkin dimaksudkan agar orang (khususnya Orang Jawa) dapat mengerti tanpa dibatasi usia maupun kapan ia hidup. Karena sebagaimana telah diketahui, Bahasa Jawa memiliki beberapa tingkatan dalam bahasa. alon-alon waton klakon mengikuti konvensi bahasa tingkat terendah, yakni Bahasa ngoko. Dengan mengunakan bahasa ngoko pepatah alon-alon waton klakon dapat lintas status sosial dan lebih universal.

 Alon-alon Waton Klakon sebagai Prinsip Hidup dan Kearifan Lokal

            Pada pembahasan sebelumnya telah disebutkan bahwa alon-alon waton klakon menganjurkan orang untuk bersikap seteliti, secermat, dan sehati-hati mungkin dalam melakukan setiap tindakan. Hal inilah yang sering ditafsirkan dengan tafsir yang sangat serampangan dan tidak sesuai dengan tujuan hidup Orang Jawa. Banyak tafsiran yang menyebutkan bila alon-alon waton klakon membuat Orang Jawa malas dan tidak memiliki ambisi terhadap hidup. Tentu saja tafsiran tersebut adalah keliru. Sangat bertentangan dengan tujuan Orang Jawa, yaitu kebahagiaan dalam hidup.

            Teliti, cermat, dan hati-hati merupakan diksi yang sangat jauh dari makna malas dan tidak meimiliki ambisi. Justru ketika seseorang teliti, cermat, dan hati-hati ketika mengerjakan sesuatu maka ia sebenarnya lebih berambisi dan lebih rajin (sebagai lawan kata malas). Hal tersebut dikarenakan ketika orang teliti, cermat dan hati-hati, yang merupakan cerminan prinsip Alon-alon waton klakon, lebih dekat dengan kemaksimalan hasil. Karena ketika seseorang teliti, cermat, dan hati-hati maka ia secara langsung maupun tidak, telah menjauhkan dari resiko yang mesti dihadapi orang ceroboh. Contoh seorang pengendara motor akan lebih dekat dengan resiko kecelakaan apabila dia terburu-buru dan tidak cermat memperhitungkan interaksinya dengan pengguna jalan yang lain. terlebih apabila kita memperhatikan dengan lebih cermat mengenai teliti, cermat dan hati-hatinya Orang Jawa. Hal itulah yang menyebabkan alon-alon waton klakon dianggap sebagai salah satu kearifan lokal (local wisdown) Masyarakat Jawa.

            Teliti, cermat dan hati-hati bagi Orang Jawa secara umum merupakan sebuah keharusan dan pemaknaannya sangat mungkin akan lebih kompleks dari masyarakat lainnya, hal ini menyangkut tujuan hidup Orang Jawa yaitu pencapaian terhadap kebahagiaan atau dalam bahasa jawa tentrem.  Sebagai ilustrasi, apabila seOrang Jawa melihat seorang pejabat menjalankan praktik korupsi, maka seOrang Jawa tidak akan langsung mengatakan bahwa ia salah. Orang Jawa tidak akan mengatakan bila pejabat tersebut salah apabila ia mengetahui bahwa pejabat tersebut sedang mengalami keterpurukan ekonomi dalam keluarganya. Secara hukum ia salah. Tetapi kecermatan dan ketelitian Orang Jawa dalam proses interaksi dengan tujuan kebahagiaanlah yang membuatnya mesti mengetuk palu salah dan benarnya tindakan. Terlebih awalnya dalam bahasa Jawa hanya dikenal kata olo (jelek) sebagai pengganti kata salah. Kata ‘salah’ baru dikenal Masyarakat Jawa lewat interaksinya dengan komunitas masyarakat lain.

            Perjalanan panjang menuju pencapaian terhadap tentrem membuat Orang Jawa terlihat lambat ketika melakukan sesuatu. Karena ia secara intuitif akan memikirkan banyak hal sebelum melakukan sesuatu. Orang Jawa secara umum selalu memimpikan kebaikan dan kebahagiaan  untuk semuanya ketika terlibat sebuah pertikaian meskipun ia mesti mengorbankan dirinya. Untuk mencapai itu tentulah seseorang mesti teliti, cermat dan hati-hati pada setiap langkah yang diambil dalam hidupnya.

 

 Beberapa Contoh Sikap Mayarakat Jawa yang Berhubungan dengan Alon-alon Waton Klakon

            Sebagai salah satu contoh, Orang Jawa pada umumnya (terutama yang masih hidup didaerah pedesaan, yang lebih jauh dari kehidupan kapitalis) lebih memilih untuk membangun rumah setahap demi setahap sesuai kemampuan ekonominya daripada harus hutang atau kredit untuk membeli rumah yang telah jadi. Hal ini dikarenakan tujuan tentrem yang ingin dicapai yang pada tahapan berikutnya membuat orang tersebut secara sadar maupun tidak menggunakan prinsip alon-alon waton klakon. Hutang bagi Masyarakat Jawa adalah beban. Sehingga untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan terburuk seperti tidak bisa membayar tepat waktu, Orang Jawa memilih nrimo ing pandum (menerima yang telah diberikan) terlebih dahulu untuk kemudian berusaha selangkah demi selangkah untuk membuat rumah seerhananya tadi menjadi lebih baik. Bagi kebanyakan orang ketika berhutang memang telah memastikan diri bahwa ia pasti bisa membayar pada waktu yang telah dijanjikannya, tapi Orang Jawa juga memperhitungkan kekuasaan takdir. Bagi Orang Jawa hari esok selalu misteri yang mesti dihadapi.

            Contoh pelanggaran terhadap prinsip alon-alon waton klakon adalah modernisme yang terlalu cepat masuk ke desa-desa. Sehingga berefek kepada masyarakat yang merasa belum lengkap hidupnya tanpa televisi. Padahal saat itu masyarakat masih banyak yang buta huruf dan buta Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di televisi. Sehingga fungsi televisi hanya sebagai penghias ruang tamu dan kebanggan belaka. Bahkan Emha Ainun Nadjib[1] menyebutkan dalam kumpulan esainya bahwa untuk mendapatkan televisi tersebut ada segolongan masyarakat yang tidak lagi peduli anaknya bekerja sebagai apa, tidak peduli lagi halal atau haram, yang penting bisa memberikan uang utuk membeli televisi. Efek-efek negatif tersebut sangat mungkin diakibatkan oleh terlalu tergesa-gesanya memasukkan budaya modern ke desa-desa bersangkutan tanpa memperhatikan kesiapan masyarakat tersebut dari segi ekonomi maupun kesiapan secara kejiwaan untuk menghadapi perubahan menuju modernitas.         

           

    

* Mahasiswa Sastra Indonesia UGM



[1] Emha Ainun Nadjib. Indonesia Bagian dari Desa Saya. 1998. Yogyakarta: SIPRESS. Halaman: 1-5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s