ANTONIO GRAMSCI: Civil Society dan Hegemoni

sumber: http://wilson-therik.blogspot.com/2006/10/antonio-gramsci-civil-society-dan.html – sdfootnote1sym#sdfootnote1sym

“Pada dasarnya, semua orang punya potensi menjadi intelektual, sesuai dengan kecerdasan yang dimilikinya, dan dalam cara menggunakannya. Tetapi tidak semua orang adalah intelektual dalam fungsi sosial.”

Salah satu pandangan Gramsci yang cukup dominan adalah pandangannya mengenai hegemoni. Gramsci sendiri memahami pengertian hegemoni bertolak dari dikotomi tradisional tentang karakter pemikiran politik Italia dari Machiavelli sampai Pareto, yakni kekuatan dan konsensus (force and consent). Dari titik tolak ini Gramsci berpendapat bahwa supremasi kelompok atau kelas sosial tampil dalam dua cara yaitu penindasan (coercion) dan kepemimpinan intelektual dan moral. Type kepemimpinan yang terakhir ini-lah yang merupakan hegemoni.
Riwayat Singkat Antonio Gramsci (1891-1937)
SARDINIA, 22 Januari 1891. Bayi Antonio Gramsci lompat keluar membetot plasenta ibunya. Tidak diduga sebelumnya, dua puluh tahunan kemudian, ia dibetot dari dunia luar oleh plasenta fasisme Benitto Mussolini. Baru puluhan tahun kemudian pula, dunia membuka mata terhadap proyek hegemoni yang sudah ditengarai Gramsci selama mendekam di penjara (1926-1937).
Antonio Gramsci sering disebut sebagai aktivis politik dan filsuf besar beraliran Marxian terbesar setelah Karl Marx. Memang benar banyak pemikirannya yang diinspirasikan ide-ide Marx, tapi ia melakukannya dengan berbagai penafsiran fundamental atas ajaran-ajaran dasar Marx. Salah satu ciri utama dari pemikirannya adalah posisinya yang berhadapan dengan tradisi marxian yang ortodoks. Menurut tradisi marxian yang ortodoks, kondisi-kondisi material obyektif (basis atau struktur) mendapat tempat yang sentral dalam arti menentukan suprastruktur (ideologi, budaya, agama, negara, dan lainnya), dan ini artinya kesadaran pun dilihat hanya sebagai refleksi dari proses ekonomi-sosial (basis). Sebaliknya Gramsci justru melihat bahwa faktor kesadaran (suprastruktur) mendapat tempat dan peranan yang sangat penting dalam proses-proses perubahan sosial-politik yang terjadi. (Posisi Gramsci seperti ini tidak jarang yang kemudian orang mempertanyakan sejauhmana keaslian Marxisme Gramsci. Ia dalam banyak kasus dituduh memiliki pemikiran Marxis yang idealis-voluntaristik. Memang di sini pengaruh dan filsafat Idealis Bonetto Croce yang lebih simpatik kepada Hegel daripada Marx sangat terasa. Tapi menurut Gramsci, filsafat Croce terjebak pada filsafat spekulatif karena ketika ia membicarakan ide-ide atau gagasan-gagasan subyektif dianggap itu sebagai produk perkembangan roh, dan bukannya produk perjuangan kehidupan nyata manusia dalam sejarah seperti yang diyakininya. Kareanya pemikiran Gramsci ini disebut sebagai “Filsafat Praksis” (Philosophy of Praxis) yakni filsafat yang mendasarkan pada aktivitas praktis tanpa meninggalkan unsur kesadaran kritis.http://wilson-therik.blogspot.com/2006/10/antonio-gramsci-civil-society-dan.html – sdfootnote2sym#sdfootnote2sym
Berasal dari keluarga yang sangat miskin. Ia hidup di Sardinia sampai umur 20 tahun. Tatkala berumur 7 tahun ayahnya yang bekerja sebagai tukang ketik dijebloskan ke dalam tahanan dengan tuduhan penggelapan. Selama lima tahun penahanan ayahnya inilah, Gramsci bersama enam saudaranya hidup dalam keadaan serba sulit. Pada umu 11 tahun Gramsci meninggalkan sekolah di desanya dan bekerja sebagai pesuruh disebuah kantor agraria setempat selama 3 tahun. Baru setelah ayahnya keluar dair penjara, Gramsci dikirim untuk melanjutkan belajarnya di Cagliari (pusat Sardinia). Di sinilah Gramsci hidup bersama kakaknya yang sudah bekerja. Akhirnya pada tahun 1911 Gramsci berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya di Universitas Turin bersama seorang sahabatnya dari Sardinia yang kemudian menjadi sahabat Gramsci di bidang Politik yaitu Plamiro Togliatti.
Kedatangannya di Turin menandai perjumpaan pertamanya dengan kehidupan kota industri modern. Kemewahan kota dan juga dangkalnya pertunjukan-pertunjukan budaya membuat Gramsci (sebagai seorang mahasiswa jurusan sastra) sering menulis banyak kritik teater. Semua ini juga membuka matanya akan kontras tajam antara kehidupan kota dan desa, interaksi keduanya, dan hubungan politik antar kelas buruh di kota dan petani di desa. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman hidupGramsci di Sardinia sangat mendalam, bukan hanya pengalamannya ytang terlalu dini akan kemiskinan dan ketidakadilan sosial di daerahnya tetapi juga minatnya terhadap budaya di sana. “Pengalaman-pengalaman ini-lah yang juga memberi adil besar bagi pembentukan Gramsci sebagai seorang revolusioner”
Ada empat tahap periode perkembangan dalam hidup berpolitik dan pemikiran Antonio Gramsci. Periode pertama merentang antara tahun 1914-1919 yang merupakan tahun-tahun pembentukan wawasan politik dan intelektual. Dalam periode ini meskipun Gramsci adalah seorang sosialis muda yang bersemangat dan revolusioner, orientasi filsafatnya lebih idealis daripada praktis marxistis. Periode kedua berlangsung antara tahun 1919-1920, suatu kurun waktu dimana Italia banyak dilanda keributan pabrik maupun aksi-aksi mogok. Dalam masa ini Gramsci dengan beberapa kawannya aktif dalam pembentukan “Dewan Pabrik” (Factory Council) dengan semangat anti sentralismenya. Pemikiran Gramsci bergeser dari idealisme filosofis ke arah marxisme yang lebih kongkrit. Ada dua konsep perubahan yang sangat penting, yakni konsep Gramsci tentang Self Education (pendidikan pribadi dari diri sendiri) kaum buruh dan komitmennya terhadap organisasi politik secara nyata. Periode ketiga antara 1921-1926 diawali dengan pembentukan Partai Komunis Italia (Partito Comunista Italiano) tahun 1921 sampai masuknya Gramsci ke beberapa tahanan fasis dibawah Mussolini. Pengalaman pahit hancurnya Dewan Pabrik memberikan kejelasan bagi Gramsci bahwa aktivitas otonom massa tidaklah mencukupi untuk menggulingkan kapitalisme. Pada periode ketiga ini boleh dikatakan Gramsci adalah seorang Bolshevik yang loyal dan kritis. Ini berarti bahwa Gramsci semakin menempatkan pemikirannya dalam konteks marxisme internasional. Periode keempat boleh dikatakan sebagai periode terakhir mulai dari tahun 1926. Pada tahun 1928 Gramsci dijatuhi hukuman penajar oleh Benitto Mussolini selama 20 tahun sampai meninggal 1937 karena perdarahan otak. Dalam masa ini Gramsci merencanakan suatu penyelidikan yang mendalam terhadap pengalaman-pengalaman politiknya dalam kerangka historis maupun filosofis yang lebih luas. Antara tahun 1929-1935 ia menyelesaikan 32 catatannya yang berjumlah sekitar 3000 halaman. Tulisan-tulisan inilah yang disebut Quaderni (Notebook Prison). Di sini-lah Gramsci menyusun tema-tema, kepentingan-kepentingan, prinsip-prinsip maupun konsepnya. Dalam tulisan itu Gramsci berupaya “mengadaptasikan senjata kritis” marxisme (keniscayaan revolusi) ke dalam kondisi kapitalisme Italia.
Civil Society dan Hegemoni
Civil society, bagi Gramsci, adalah faktor kunci dalam memahami perkembangan kapitalisme. Berbeda dengan Marx yang meletakkan civil society hanya semata-mata sebagai struktur hubungan produksi (ekonomi), maka Gramsci kelihatannya meyakini bahwa civil society sebagai suprastuktur yang mewakili faktor aktif dan positif perkembangan sejarah yang merupakan hubungan budaya dan ideologi yang kompleks, kehidupan intelektual dan spiritual serta ekspresi politik, bersama-sama dengan political society (negara). Dengan demikian, berbeda dengan Marx, Gramsci membagi tiga jenis hubungan sosial dalam masyarakat kapitalis, yakni, (1) ekonomi; (2) civil society; dan (3) political society. Tapi satu hal yang harus ditegaskan di sini bahwa Gramsci sendiri tetap mempertahankan pembagian dunia sosial-politik menjadi dua, yakni basis ekonomi (struktur) dan ideologi-politik (suprastruktur). Tapi, berbeda dengan Marx, Gramsci tidak melihat hubungan keduanya tersebut sebagai linier, kausal, atau mekanis. Baginya, suprastruktur tidak semata-mata hanya refleksi dari struktur. Ia justru menegaskan bahwa suprastruktur adalah sebuah realitas, objektif, dan operatif. Ringkasnya, bagi Gramsci, di satu sisi, elemen ekonomi dapat dijalankan dalam beberapa penentuan dan cara khusus untuk mempengaruhi civil society dan political society, tapi di sisi yang lain, ekonomi dapat juga ditentukan oleh permainan yang lahir dari tingkatan otonomi relatif civil society dan political society. Dalam garis yang lebih moderat kita mungkin bisa mengatakan bahwa perbedaan antara Marx dan Gramsci hanyalah dalam masalah kadar, dan bukan substansi yaitu Marx lebih banyak memberikan tekanan pada ekonomi, sementara Gramsci lebih menaruh perhatian pada soal politik.
Dalam konsepsi Gramsci, ekonomi di sini merujuk kepada mode produksi (mode of production) yang paling dominan dalam masyarakat (baca: kapitalis), dan ini meliputi teknik produksi dan hubungan sosial produksi yang ditumbuhkan atas munculnya perbedaan kelas sosial (kelas buruh dengan kelas pemilik modal) dalam arti kepemilikan alat-alat produksi. Adapun pemahaman civil society di sini mencakup seluruh aparatus transmisi yang lazim disebut sebagai swasta. (private) seperti universitas, LSM, media massa, gereja, sekolah, serikat dagang, partai politik, dan asosiasi budaya yang berbeda dari proses produksi dan aparat negara. Namun mengingat aparatus-aparatus tersebut memiliki posisi dan peran yang sangat menentukan dalam membentuk kesadaran massa, maka kemampuan kelompok-kelompok yang berkuasa dalam mempertahankan atau melanggengkan kontrol sosial-politik atas kelompok-kelompok masyarakat lainnya sangat bergantung pada kemampuannya dalam mengontrol aparatus-aparatus tadi. Sementara itu, yang dimaksud dengan political society adalah semua institusi publik yang memegang kekuasaan untuk melaksanakan perintah.atau hubungan-hubungan koersif yang terwujud dalam berbagai lembaga negara seperti angkatan bersenjata, polisi, lembaga hukum dan penjara bersama-sama dengan semua departemen administrasi yang mengurusi pajak, keuangan, perdagangan, industri, keamanan sosial, dan lain sebagainya. Namun, masih menurut Gramsci, baik di tingkat analisis maupun empiris, ketiga hubungan sosial ini bisa saling tumpang tindih atau melengkapi. Terhadap konsep civil society dan political society, Gramsci menggangap bahwa dua struktur utama di tingkat suprastruktur tersebut merepresentasikan dua wilayah yang berbeda tapi berkaitan, yakni wilayah adanya kekuatan (force) dalam political society dan wilayah adanya persetujuan (consent) dalam civil society. Jika yang duluan merujuk kepada keunggulan sebuah kelompok sosial melalui cara dominasi alias pemaksaan kehendak, maka yang belakangan dibangun melalui apa yang disebut sebagai kepemimpinan intelektual dan moral. Bentuk terakhir ini yang oleh Gramsci kemudian disebut sebagai hegemoni. Kedua struktur utama tersebut, dalam konsepsi Gramsci mengenai negara yang lebih luas (disebut sebagai negara integral) merupakan gabungan dari civil society dan political society, atau sebagai hegemoni yang dilindungi oleh tameng koersif.
Sementara itu, hegemoni di sini diartikan sebagai dominasi satu kelompok atau kelas dalam masyarakat yang dicapai tidak melalui kekuatan (force) tapi melalui konsensus (consent) dengan kelompok atau kelas yang lain. Secara lebih jelas, mengutip Martin Carnoy, hegemoni adalah suatu proses dalam civil society di mana fraksi dari kelas yang dominan melakukan kontrol melalui .kepemimpinan moral dan intelektual. (moral and intelectual leadership) terhadap kelas atau kelompok yang lain. Fraksi yang dominan tersebut memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk mengartikulasikan kepentingan mereka terhadap fraksi yang lain. Mereka tidak memaksakan ideologi mereka terhadap kelas atau kelompok yang lain, tapi lebih pada merepresentasikan suatu pedagogic dan proses transformatif secara politik di mana kelas atau fraksi yang dominant mengartikulasikan sebuah prinsip hegemoni yang membawa elemen bersama yang tampil dalam pandangan dunia. (world view) dan kepentingan bagi kelompok-kelompok yang lain. Ini artinya, kelas atau kelompok-kelompok yang subordinat telah menerima dan meniru ide-ide, cara berpikir dan gaya hidup kelas atau kelompok yang dominan sebagaimana layaknya milik mereka sendiri. Dengan demikian legitimasi kekuasaan kelas atau kelompok yang dominan relatif tidak ditentang karena seluruh ide, kultur, nilai, norma dan politiknya sudah diinternalisasi atau secara sukarela, bukan karena takut atau paksaan, dipandang sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari kelas atau kelompok-kelompok yang subordinat.
Civil Society dan Hegemoni di Indonesia
Pembicaraan mengenai civil society di Indonesia sejak pertengahan tahun 1980-an, kelihatannya lebih banyak yang bersandar pada tradisi liberal (tokohnya antara lain Tocqueville) dengan semangat sebagai kekuatan penyeimbang kekuatan negara. Ini bisa dimengerti karena pada waktu kekuasaan Orde Baru, peran dan posisi negara sangat kuat dalam mendominasi seluruh aspek kehidupan masyarakat, baik secara sosial-politik maupun budaya-ekonomi. Karena wajar juga kalau arti dari civil society biasanya merujuk kepada pemberdayaan masyarakat dengan ciri utama seperti keswasembadaan (self-generating), keswadayaan (self-supporting), kesukarelaan (voluntary), dan kemandirian (independent) dalam berhadapan dengan kekuasaan negara. Dalam praktik politiknya ini terlihat dalam aktivitas LSM, kelompok perempuan, buruh, komunitas keagamaan dan budaya, serta kelompok-kelompok marjinal atau yang sejenis dalam masyarakat . Sementara itu jika kita menggunakan konsep Gramsci mengenai civil society dan hegemoni dalam kasus Indonesia, maka semangatnya di sini adalah adanya elemen ideologi kelas yang dominan terhadap kelas-kelas yang subordinat. Pada titik ini kita bisa mengaitkannya dengan konsep yang sering dipromosikan oleh kalangan feminis yakni patriarki. Sebagaimana civil society, istilah patriarki ini juga bukan tanpa masalah. Ada banyak pengertian yang terkandung di dalamnya, meskipun secara harfiah berarti kekuasaan bapak atau .patriarkh. (patriarch). Pada awalnya istilah ini dipakai untuk menyebut suatu jenis .keluarga yang dikuasai oleh kaum laki-laki, yaitu rumah tangga besar patriarch yang terdiri dari kaum perempuan, laki-laki muda, anak-anak, budak, dan pelayan rumah tangga yang semuanya berada di bawah kekuasaan atau hukum bapak sebagai laki-laki penguasa itu. Tapi nampaknya istilah ini kemudian mengalami perkembangan dalam hal lingkup institusi sosial menjadi lebih luas lagi, dari tingkat masyarakat sampai ketingkat negara. Sebut saja misalnya lembaga perkawinan, lembaga pendidikan, institusi keagamaan, institusi ketenagakerjaan, media massa, birokrasi negara dan lain-lain. Pada titik ini juga pengertian dari hukum bapak. berkembang menjadi hukum suami, hukum pimpinan atau boss di kantor, hukum pejabat birokrasi, atau singkatnya adalah .hukum laki-laki yang secara umum berlaku atau beroperasi pada hampir semua institusi sosial, ekonomi, hukum, politik, dan budaya.
Sampai di sini kita bisa mengatakan bahwa ada keterkaitan yang erat antara civil society dan hegemoni di satu sisi, dengan patriarki di sisi yang lain. Minimal titik temunya ada pada penerimaan masyarakat secara umum terhadap berbagai ide, norma, ajaran, kebijakan, dan lainnya yang lahir dari kekuatan civil society melalui proses hegemoni, dan ini ditopang kekuasaan negara melalui dominasi, yang jatuh bersamaan dengan tegaknya patriarki dalam masyarakat yang kemudian berkembang sampai ke tingkat negara.
Penutup
Sejauh ini apa yang digambarkan sebagai tegaknya hegemoni dan patriarki benar-benar meminggirkan perempuan dalam posisi subordinat dan marjinal dalam segala aspek kehidupan. Dan sebagai sisi baliknya, posisi dan peran negara yang begitu kuat, khususnya pada era Orde Baru, dengan dominasinya. Pertanyaannya kemudian, masihkah ada ruang bagi masyarakat, khususnya perempuan, untuk melakukan perlawanan, atau minimal bisa bernegoisasi atau kompromi sehingga mereka masih bisa tampil relative independen atau otonom dalam hal menentukkan kepentingan dan cita-citanya sendiri.
Jika kita kembali pada Gramsci, secara normatif ruang-ruang tersebut sebetulnya masih ada. Istilah yang dipakai disini adalah .counter-hegemony. (hegemoni tandingan) yang justru dilakukan melalui saluran-saluran dalam civil society yang ada. Ini artinya civil society yang merupakan tempat bagi kelompok sosial dominan mengatur konsesus dan hegemoni, ternyata juga sekaligus sebagai tempat bagi kelompok-kelompok sosial yang tersubordinasi, dalam hal ini perempuan, menyusun perlawanan dan membangun hegemoni tandingan (counter-hegemony). Ini misalnya yang dikerjakan kalangan pers alternatif atau aktivis LSM Perempuan yang membawa ide-ide, norma-norma atau pemikiran-pemikiran yang mengkritisi atau bahkan membongkar tatanan yang sudah mapan selama ini. Memang tidak mudah, dan bahkan merupakan kerja besar karena yang dihadapi di samping tegaknya hegemoni (civil society) dan dominasi (political society), juga berkait erat kokohnya patriarki.
Perlawanan tersebut, kembali mengutip Gramsci, disebut sebagai konsep perang posisi (the war of position) yakni perjuangan yang lebih diarahkan pada usaha-usaha untuk membongkar atau bahkan melenyapkan ideologi, norma-norma, politik dan kebudayaan dari kelompok yang berkuasa. Ini tidak dilakukan dalam arti perang secara fisik tapi sebagai sebuah proses transformasi kultural untuk menghancurkan sebuah hegemoni dan menggantikannya dengan hegemoni yang lain.
Satu kelemahan mendasar dari Gramsci adalah lemahnya pemahaman Gramsci terhadap sistem demokrasi yang memungkinkan melemahnya kesadaran revolusioner. Sistem demokrasi (liberal di negara-negara maju) yang ternyata memperkuat keyakinan bahwa partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan kurang mendapat perhatian. Perlu di sini kiranya ditemukan pendekatan yang lebih multi-dimensional, sehingga tidak terkecoh dengan adanya kesadaran yang bertentangan dalam masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s