Matahari Pergi dalam Mimpi Saya

MATAHARI   PERGI   DALAM   MIMPI   SAYA*

Pena: Pekik Nursasongko

 

            Pagi menunjukkan pukul sembilan. Ruang sidang telah sesak oleh hadirin dan wartawan yang hendak mengikuti kasus yang telah dua hari di beritakan seluruh media negeri Antah Barantah.

“Tuan A. Benarkah lelaki ini yang mencuri matahari?” tanya seorang hakim ketua.

            “Benar tuanku. Dialah lelaki itu. Dia yang dengan sembunyi-sembunyi mencungkil matahari”

            Hadirin mulai rebut. Mereka berteriak sembarang kata. Para wartawan sibuk mendapatkan mangsa untuk mengejar oplah media.

            Hakim ketua melipat keningnya. Selama berpuluh tahun ia menjadi hakim belum pernah didapatinya kasus yang sangat misterius. Dalam buku-bukunya pun tak didapatinya kasus yang hendak dijadikannya sebagaip referensi. Sementara para profesor di mana ia dulu mendapatkan gelar doktornya pun hanya menggeleng, “mengaku matahari hilang? GILA” selalu demikian jawab lelaki-perempuan botak yang ditemuinya.

            Kasus yang ditanganinya memang sangat misterius. Awalnya ia mengira pelapor adalah orang gila, namun dokter jiwa milik kejaksaan tinggi yang jelas tak diragukan kebenaran analisisnya menyatakan bahwa pelapor adalah seorang yang normal.

            “Tuan pelapor”

            “Saya tuan”

            “Bisa anda ceritakan kembali bagaimana matahari tuan bisa hilang?”

            “Bisa tuan hakim”

            “Ceritakanlah”
            “Malam itu saya sangat letih, sehingga cepat saya tertidur. Dalam mimpi saya lelaki itu memandang saya. Sangat lama”

            “Teruskan,” perintah hakim sambil melihat B, sosok yang berdiri di kotak tersangka.

            “Setelah lama memandang saya. Ia segera berlari menuju barat, saya hanya memperhatikan karena tak mampu berfikir apa yang mesti saya kerjakan. Tak lama kemudian saya melihat sesosok manusia di atas gunungan pasir seperti mengepalkan tangannya ke arah matahari. Saya berinisiatif menggunakan untuk melihat apa yang tengah dilakukan orang tersebut, ternyata tuan B tengah memotong matahari agar dapat dilipatnya seukuran kartu pos. setelah dipotongnya seukuran kartu pos, ia melipat matahari dan menaruhnya di saku baju”

            “Tuan A bilang di dalam mimpi”

            “Benar tuan hakim”

            “Jika hanya di dalam mimpi, mengapa anda berani melaporkannya pada pengadilan”

            “Sebab ketika saya terbangun saya tidak lagi dapat melihat matahari tuan hakim. Tetapi anak dan istri saya masih bisa melihat matahari bertengger di langit”

            Ruang sidang tiba-tiba senyap. Semua orang menelan ludahnya kembali. Ketua hakim memainkan ujung palunya sejenak. Bingung apa yang mesti diucapkannya.

            “Baiklah. Terimkasih tuan A. Tuan B,”

            “Saya tuanku”

            “Benarkah apa yang disampaikan tuan A?”

            “Benar tuanku”

            Ketua hakim dan jajaran hakm lainnya hanya mampi menarik nafas sangaaaaaat panjang.

            “Ceritakanlah” kata Hakim ketua.

            “Malam itu saya tertidur di tempat kerja. Tiba-tiba seorang lelaki mendekati saya. Dimintanya saya mencuri matahari, katanya untuk kado pacarnya”

            Hadirin masih diam, sebagian menggelengkan kepala.

            “Teruskan tuan B”

            “Awalnya saya ragu bisa melakukannya. Tetapi ternyata saya bisa memotong matahari. Satu-satunya orang yang saya perhatikan adalah tuan A ini. Tetapi sungguh, saya sungguh tidak menyangka bila saat ini ia tak bisa lagi melihat matahari seperti saya. Karena saya kira itu hanya mimpi”

            Hadirin masih diam. Kameraman dari berbagai stasiun televisi sibuk mengatur kameranya untuk mendapatkan gambar dan suara yang prima. Ketua hakim menarik nafasnya kembali. Tak lama kemudia seorang hakim muda yang terkenal cakap membisikinya. Setelah itu hakim ketua bertanya,

            “Tuan B”

            “Saya tuan”

             “Siapa nama lelaki itu dan di mana ia tinggal?”

            “Ia mengaku sebagai Togog tuanku. Ia tidak menyebutkan tempat tinggalnya”

            “Apakah anda mengenalnya sebelum kejadian ini berlangsung?”

            “Saya tida pernah bertemu tuanku. Tetapi setahu saya Togog adalah nama salah satu tokoh wayang yang tidak diberkati dewa”

            “Dari mana anda tahu hal tersebut?”

            “Dari Seno Gumira Ajidarma”

“Siapa dia?”

“Penulis Kitab Omong Kosong”

            Hakim ketua menarik nafas lebih panjang dari sebelumnya. Hendak tertawa, tapi ditahannya pula tawa tersebut demi kewibawaannya.

Kota antah barantah dua jam terakhir berhenti beraktifitas. Pasar dan pabrik tutup lebih pagi, semua orang menonton televisi. Menyaksikan tuan A dan tuan B di meja hijau.

            Lama sekali hakim ketua terdiam. Jutaan pasang mata mengamati bibir ketua hakim, menantikan keputusan ketua hakim. 

            “Tuan A dan tuan B. Ini adalah kasus yang tidak lazim untuk masuk ke pengadilan. Saya terpaksa  menutup kasus ini, kecuali ada saksi”

            Hakim ketua mengeluarkan nafasnya yang tertahan. Ia merasa telah memutuskan perkara dengan sangat tepat. Semua hadirin dan jutaan muka yang menonton televisi kecewa. Namun baru saja hadirin di pengadilan hendak meninggalkan tempat duduk, seorang wanita dan dua orang lelaki dengan tergepoh-gepoh memasuki ruangan sidang dan meminta kepada hakim untuk menarik kembali putusannya. Adegan yang membuat jutaan mata kembali melekat ke arah televise.

            Ketua hakim terpaksa mempersilahkan tiga orang itu untuk berbicara. Meskipun ia harus menyalahi aturan kehakiman. Tetapi jabatannya seolah memintanya untuk berfikir cerdas.

            “Tuan hakim yang terhormat. Mohon tuan hakim merubah putusan tuan dan mengkaji dengan serius masalah ini. Kami bertiga juga tak bisa lagi melihat matahari dan mungkin semua orang juga mempunyai masalah yang sama. Padahal awan juga tak nampak. Awalnya kami anggap itu juga hanya mimpi belaka. Tapi setelah kami ke luar rumah hendak bekerja, kami sungguh-sungguh tak bisa melihat matahari”

            Setelah mendengar pernyataan tersebut, hadirin berebut ke luar ruangan sidang. Ketua hakim dan anak buahnya pun ke luar ruangan. Tindakan serupa juga dilakukan jutaan pemilik mata yang sedari tadi disihir televisi. Rupanya seharian ini mereka belum sempat ke luar rumah dan menatap angkasa.

Semuanya berkata satu hal secara serentak: matahari telah hilang!!!!!!!

 

                                                                                                Jogja, 27 Maret 2008

 

* Cerpen ini hendak saya jadikan bukti kekaguman saya kepada Seno Gumira Ajidarma, maestro penggabungan fakta dan fiksi dalam cerita Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s