Wanita Terakhir di Saku Bajuku

Namanya Dini. Umurnya tak lebih tua dari nenekku. Wajahnya masih menyimpan sebutir kecantikan untuk membuatku selalu ingin merindukannya. meski giginya tak lagi sempurna dan kulitnya telah menimbulkan lalat berminat mencintainya. siapa yang tak kenal ia, perempuan terkaya dan termashur di kota Ndunyo karena keanggunannya. hingga seorang pejabatpun akan segan bermimpi tidur dengan Dini.

Perkenalanku dengan Dini tak ada yang menarik. ia memesan patung dan aku melayaninya. selebihnya untuk sementara waktu aku merasa puas hanya sebagai detektif yang tak lelah mencari tau: siapa Dini?

Pencarianku tak sia-sia. aku berhasil menemukan berapa ukuran sepatu, baju, topi, bahkan aku tau persis ukuran bra yang dipakainya. aku hafal betul, jam berapa ia pergi ke makam suaminya stiap hari minggu dan bagaimana bunyi langkah kakinya ketika berjalan menuju mobil. dan yang paling penting. aku telah menemukan bukti, kenapa ia begitu mashur di kota ini. selain karena berkas kecantikannya yang tak lekang digilas tahun.

Dini telah mencuri 24 jam waktu perhari yang kumiliki. namanya begitu rakus menusuk setiap hatiku. sehingga namanya menjadi semakin luas bertahta dalam pembuluh darahku.

kini. setahun setelah aku bertatap muka dengannya. sebuah patung berdiameter raksasa telah usai. sebuah maha karya yang melukiskan kecantikan Dini, sebuah patung yang jauh lebih cantik dari Cleopatra. dan saat ini, patung itu akan kupersembahkan kepada junjunganku. Dini yang tercinta.

“Siapa kau” sapa satpam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s