entah sejak kapan

hari aku merasa ramai masih menjadi bagian dari darahku

ketipa sepi merajut aksara, aku langsung tenggelam

sampai tapal batas yang mengharuskan aku untuk kembali mencumbu ramai

 

apakah ini gejala yang sama dengan ketika aku menghembuskan nafas pertama?

sungguh

 

sepi itu telah begitu lantang mengoyak semangat terakhirku saat letih

 

 

padahal saat diam sempurna

sepi mengharumkan namaku

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s