Novel Kitab omong Kosong sebagai pelopor dekonstruksi epos Ramayana

NOVEL KITAB OMONG KOSONG KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA:

PELOPOR DEKONSTRUKSI EPOS RAMAYANA

oleh:Pekik Nursasongko

 

            Kitab Omong Kosong adalah salah satu novel karya Seno Gumira Ajidarma. Mantan pemimpin redaksi majalah JJ. Novel Kitab Omong Kosong sebelum diterbitkan dalam bentuk buku telah diterbitkan sebagai cerita bersambung di Koran Tempo semenjak 2 April hingga 10 Oktober 2001 dengan judul Rama-Sinta. 

            Seno Gumira Ajidarma lahir Boston, 19 Juni 1958. Diantara bukunya yang telah terbit adalah Matinya Seorang Penari Telanjang, Jazz, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, Kalatidha, Saksi Mata, Senja untuk Pacarku, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara (wikipedia.org) dan beberapa buku lainnya. Mayoritas karya Seno Gumira Ajidarma adalah novel dan cerpen suryalis. 

Novel Kitab Omong Kosong dipilih sebagai objek kajian dengan alasan novel tersebut adalah salah satu karya puncak dibuktikan dengan gelar Pemenang Literary Award tahun 2005 yang diperolehnya. Selain itu Seno melalui Kitab Omong Kosong telah berhasil menawarkan sebuah prespektif baru mengenai epos Ramayana. Bahkan dalam novel tersebut diceritakan bila Walmiki yang merupakan penulis epos Ramayana digugat oleh tokohnya dan beberapa tokoh minta ijin untuk melepaskan diri dari alur yang disusun oleh Walmiki.

            Berdasar  pada asumsi di atas novel Kitab Omong Kosong karya seno gumira Ajidarma   merupakan pelopor dekonstruksi   epos Ramayana melalui novel. Meskipun sebelumnya Ramayana  telah ditulis ulang oleh    Sindhunata (Anak Bajang Menggiring Angin, 2007), Sunardi D. M (Ramayana, 1997),   Yanusa Nugroho (Manyura, 2004),  dan beberapa penulis lainnya. Tetapi  penulis tersebut tidak melakukan dekonstruksi hingga menghadirkan  makna dan    cerita baru terhadap epos Ramayana. Penulis-penulis tersebut hanya melahirkan versi  yang tidak sampai kepada   cerita baru berdasar epos Ramayana. Epos Ramayana  yang ditulis oleh Sunardi D.M menjadi perbandingan utama dengan alasan tulisan tersebut mendekati asli karena penulisnya memberikan pernyataan bahwa tulisannya merupakan lanjutan dari cerita wayang Arjuna Sasra Bahu.

            Fokus analisis ini pada hal penokohan, alur, latar tempat, dan kemungkinan menafsirkan epos Ramayana  dengan filsafat Yunani pada novel Kitab Oong Kosong sebagai dekonstruksi epos Ramayana. Dengan pemfokusan ini diharapkan analisis akan lebih maksimal.

 

Setelah Soeharto dan rezimnya tidak lagi memerintah di Indonesia, tidak lagi ada penahanan penulis dan pelarangan terbit novel. Represi Orde Baru terhadap dunia sastra Indonesia sastra diantaranya dialami oleh Pramoedya Ananta Toer. Akibat dari hilangnya represi terhadap pers tersebut banyak sekali bermunculan penulis-penulis baru dengan diterbitkannya ratusan judul novel dengan berbagai cerita. Tetapi sangat sedikit yang mengangkat kembali epos sebagai bagaian dari novel. Terlebih melakukan dekonstruksi epos seperti yang dilakukan Seno Gumira Ajidarma dalam novel Kitab Omong kosong.

Dekonstruksi adalah upaya membaca teks dengan menolak asumsi bahwa ada makna tunggal dalam teks. Teori dekonstruksi menolak pandangan bahwa bahasa telah memiliki makna yang pasti, tertentu, dan konstan, seperti pandangan kaum strukturalisme klasik (Nurgiantoro, 2007:59). Sehingga penulis yang melakukan dekonstruksi terhadap sebuah teks akan  berusaha untuk memunculkan makna yang justru ditenggelamkan oleh teks. 

Dalam khazanah kesusastraan Indonesia, usaha membentuk makna baru pada cerita yang sudah berkembang di masyarakat sebenarnnya sudah pernah dilakukan A.A. Navis pada tahun 1963 dengan cerpennya yang berjudul Malin Kundang, Ibunya yang Durhaka (2005: 273-279). Cerpen tersebut bercerita mengenai beberapa orang yang mementaskan drama Malin Kundang tetapi bukan Malin Kundangnya yang durhaka lantas dikutuk, tetapi ibunya. Sehingga membuat ibu-ibu yang menonton drama tersebut menitikkan air mata. Cerpen AA. Navis tersebut mendekonstruksi makna tunggal yang selama ini berkembang bahwa yang durhaka adalah Malin Kundang, meskipun hanya melalui cerita berbingkai.

Seno Gumira Ajidarma dalam novelnya berjudul Kitab Omong Kosong (2006) telah melakukan upaya dekonstruksi terhadap epos Ramayana. Sebuah epos dari India tulisan empu Walmiki yang telah melegenda di Indonesia (khususnya masyarakat Jawa). Novel tersebut berkisah tentang usaha Satya dan Maneka mencari Walmiki untuk diubah nasibnya dan Kitab Omong Kosong untuk menyelamatkan manusia dengan pengetahuan.

Sudut pandang yang digunakan Seno Gumira Ajidarma dalam Kitab Omong Kosong adalah sudut pandang orang ketiga mahatahu. Dengan teknik penceritaan mirip dengan gaya berceritanya tukang cerita (dalam masyarakat Jawa dikenal dengan nama Kentrung). Seperti yang nampak pada kutipan berikut:

Para pembaca sekalian, apa yang sebenarnya terjadi tidaklah tampak seperti tampaknya (SGA, 2006:184).

Kisah Subali dan Sugriwa yang sebetulnya sangat seru, akan dilanjutkan pada kesempatan lain. Maafkanlah saya penulis yang bodoh ini terpaksa berbuat begini, tekniknya kurang canggih, malas mengarang, kurang pengetahuan (SGA, 2006:195).

 

Gaya bercerita tersebut sangat berbeda dengan epos Ramayana yang ditulis oleh Sindhunata dan Sunardi D.M.

            Cerita Rama menghimpun kekuatan untuk menghancurkan Rahwana sang penguasa Alengka yang pada cerita Ramayana  dijadikan sebagai cerita utama dalam novel Kitab Omong Kosong justru hanya menjadi penguat atmosfir bahwa cerita tersebut adalah adaptasi dari Ramayana. Sedangkan cerita utama adalah perjalanan Maneka dan Satya mencari Walmiki dan Kitab Omong Kosong. Cerita dan tokoh  yang tidak ditampilkan oleh epos Ramayana.

            Latar tempat novel Kitab Omong Kosong berbeda jauh dengan Ramayana, novel karya Seno Gumira Ajidarma menunjukkan dengan detail latar India sebagai latar utama sedangkan dalam epos Ramayana yang ditulis kembali oleh Sunardi berlatar tempat yang entah dimana keberadaannya (mungkin di India juga, tempat epos Ramayana berasal). Seperti yang nampak pada kutipan berikut:

“Pulang ke Ayodya? Entahlah. Ibu sangat bahagia di tepi anak Sungai Gangga. Kami tidak pernah tahu rumah kami di Ayodya (SGA, 2006: 71)

     

… Selama Satya berkisah tentang riwayat Sang Hanoman, pedati mereka merayapi kota-kota Amritsar, Kapurthala, Faridkot, Dunga Bunga, sampai ke Hanumangar (SGA, 2006: 240).

     

      Perjalanan Rama dan Lesmana keluar-masuk desa mendapat sambutan meriah. Pada suatu hari mereka kembali memasuki pertapaan Bagawan Yogiswira (Sunardi, 1997: 22).

 

Beberapa novel Kitab Omong Kosong di atas menunjukkan dekonstruksi epos Ramayana yang dilakukan oleh Seno. Gaya bercerita yang terkadang menampakkan penulisnya sebagai orang bodoh dalam bercerita membentuk penafsiran baru, penulis epos Ramayana yang selama ini dikenal sebagai sosok yang sangat lihai bercerita mengakui bahwa dirinya tidak pandai dalam bercerita. Sedangkan pada tataran latar Seno melakukan dekonstruksi berupa tempat yang lebih membumi (khususnya bagi orang Indonesia yang tidak akrab dengan daerah India) dengan menyebutkan nama beberapa tempat.

Bentuk dekonstruksi epos Ramayana yang ada dalam novel Kitab Omong kosong juga terlihat dalam penokohan dan alur. Penokohan yang terdapat dalam novel Kitab Omong kosong mengalami beberapa perubahan dengan penokohan yang ada dalam Ramayana (Sunardi, 1997). Dalam hal penamaan tokoh misalnya, novel karya Seno Gumira Ajidarma terdapat tokoh tambahan Satya, Maneka, dan Walmiki yang kemudian menjadi salah satu tokoh utama. Tetapi sebaliknya, dalam novel Kitab Omong kosong tidak disebutkan tokoh Prabu Dasarata dan Dewi Sukasalya yang merupakan ayah dari Rama (Oleh Sunardi disebut nama lengkapnya  Ramabadra), Burung Jatayu yang mencoba menyelamatkan Sinta, dan beberapa tokoh yang ada dalam perjalanan Rama membangun kekuatan untuk menyerang Alengka.

Masuknya Walmiki menjadi salah satu tokoh dan beberapa dialog dalam novel yang menyebutkan bahwa tidak hanya Walmiki yang mengisahkan Ramayana mendekonstruksi anggapan umum bahwa Walmiki adalah penulis utama epos Ramayana yang tidak mungkin namanya masuk dalam cerita. Secara tidak langsung asumsi tersebut juga meletakkan Seno Gumira Ajidarma sebagai penulis Ramayana dengan versinya, meskipun tetap mengadaptasi Ramayana karya Walmiki. Asumsi tersebut diperkuat novel karya Seno Gumira Ajidarma berjudul Kitab Omong kosong yang diakhiri dengan pengakuan Togog (mengaku sebagai penulis cerita) bahwa dirinya merupakan orang yang tidak bisa bercerita dan memohon bagi pembaca untuk tidak membaca ceritanya.

Karakter tokoh Rama oleh Seno dirubah, Rama  yang dalam epos  Ramayana dikenal sebagai sosok yang arif dan menjadi pelindung bagi rakyatnya dalam novel Kitab Omong kosong  justru menjadi seorang pengacau jaman yang melahirkan ribuan korban.  Bahkan melalui kekejaman Rama itulah muncul tokoh Satya dan Maneka yang kemudian menjadi salah satu tokoh utama. Menggeser posisi tokoh Rama dan Sinta pada epos Ramayana pada umumnya.

Alur Kitab Omong Kosong terbagi dalam tiga bab yang masing-masing babnya terdapat tujuh hingga dua puluh tiga bagian. Pola alur berdasar pada tiga bab tersebut adalah A B C. Asumsi ini didasarkan atas bab pertama berisi cerita persembahan kuda, bab kedua perjalanan Maneka hingga bertemu Satya kemudian keduanya mencari empu Walmiki, dan bagian terakhir berkisah mengenai pencarian kitab omong kosong yang dilakukan Satya dan Maneka.

Pada bab pertama yang berjudul Persembahan Kuda alur perbagiannya membentuk pola C-B-A-D-E-F-G.  Cerita bermula dari Satya melihat pasukan persembahan kuda menghancurkan desanya, 15 tahun sebelum persembahan kuda, pengusiran Sinta dari Ayodya, Sinta hidup bersama Walmiki, kekalahan pasukan berkuda oleh Lawa dan Kusa (anak Sinta), Lawa dan kusa diundang ke Ayodya bertemu dengan ayahnya (Rama), dan perjuangan   Satya membangun desanya.

Alur bab pertama di atas sangat berbeda dengan alur pembuka yang digunakan Ramayana, pada Ramayana (Sunardi 1997) bagian pembuka adalah kelahiran Rama. Sedangkan persembahan kuda dalam Ramayana (Sunardi, 1997) justru tidak diceritakan. Persembahan kuda menjadi dekonstruksi awal cerita Ramayana yang pada umumnya meletakkan kelahiran Rama dan pertemuannya dengan Sinta sebagai awal cerita. Sangat mungkin persembahan kuda yang telah menghancurkan banyak kerajaan tersebut adalah usaha Seno untuk membuat plausibilitas dalam usaha dekonstruksinya. Sehingga terlahirlah tokoh Satya dan Maneka yang mencari Walmiki untuk lepas dari alur yang menurut kedua tokoh tersebut sangat merugikan.

Sedangkan dalam bab kedua yang berjudul Perjalanan Maneka alur yang berkembang adalah A-B-C karena tidak ada  flas back pada bab tersebut. Bab tersebut menceritakan rajah dipungung Maneka yang membawa kesengsaraan kepadanya, pertemuan Maneka dengan Satya, dan perjalanan keduanya mencari Walmiki. Di tengah perjalanan mencari Walmiki, mereka diberi peta letak Kitab Omong kosong (yang merupakan puncak pengetahuan manusia oleh) seseorang tidak dikenal.  Dalam pertemuannya dengan Walmiki, Walmiki merasa bersedih dan meminta Maneka mengubah nasibnya sendiri. Sesekali dalam bab ini diuraikan cerita berbingkai yang berisi cerita Siwara Trikalpa (malam peribadatan Siwa), Cupu Astagina yang menjadi sebab kelahiran Hanoman, dan mengenai Trijata istri Hanoman.

Pada bagian kedua sangat terlihat Ramayana hanya diambil sebagian-sebagian untuk kemudian dijadikan bagian dari isi novel melalui teknik penceritaan cerita berbingkai. Seperti cerita mengenai munculnya tokoh Hanoman dalam novel melalui cerita Satya mengenai Cupu Astagina. Sehingga atmosfir yang terdapat dalam epos Ramayana tetap dirasakan pembaca dalam novel Kitab Omong kosong.

Bab ketiga novel Kitab Omong kosong memiliki alur A-B-C karena seperti bab sebelumnya, dalam bab ketigapun tidak terdapat flasback. Bab ketiga mengisahkan perjalanan Satya dan Maneka mendapatkan Kitab Omong Kosong dan menafsirkannya, dan beberapa tokoh dalam Ramayana yang meminta ijin kepada Walmiki untuk keluar dari alurnya.

Kitab  Omong  Kosong  merupakan kitab  tulisan Walikilia,  apabila  seseorang mempelajari kitab tersebut maka ia menghemat waktu beberapa ratus tahun untuk mengembalikan peradaban yang telah dihancurkan oleh pasukan Ayodya atas nama persembahan kuda. Kitab tersebut terbagi dalam lima bagian yang tersebar di seantero benua dan yang menyebarkan kitab tersebut adalah Hanoman. Kitab Omong Kosong tidak ada dalam epos Ramayana, ia merupakan tambahan Seno Gumira Ajidarma.

Kitab Omong Kosong yang dicari Satya dan Maneka setelah Walmiki meminta Maneka mengubah nasibnya sendiri mendekonstruksi cerita utama merebut Sinta dari Rahwana sebagai makna tunggal.

Lima bagian kitab yang masing-masing berjudul Dunia Seperti Adanya Dunia, Dunia Seperti Dipandang Manusia, Dunia yang Tidak Ada, Mengadakan Dunia, dan Kitab Keheningan serta penafsiran Satya terhadap masing-masing bagian tidak nampak sebagai bagian dari cerita Ramayana, tetapi seperti petikan pelajaran filsafat tentang cara memaknai hidup dan memandang dunia. asumsi tersebut didasarkan atas munculnya pertanyaan-pertanyaan filosofi seperti apakah sesuatu yang ada itu benar-benar ada nampak pada kutipan di bawah ini:

… Segala sesuatu yang ada itu ada karena ada, pikir Satya, tapi benarkah begitu? Adakah hanoman? Ia hanya ada dalam cerita Walmiki, namun ia telah berjumpa dengannya, bahkan sedang menggunakan sarungnya, sarung kotak-kotak hitam putih yang hanya digunakan oleh tiga nama dalam jagad pewayangan, yakni Batara Bayu, Hanoman, dan Bratasena (SGA,2006:342).

 

Pertanyaan mengenai yang ada dan tidak ada adalah diskusi filsafat yang telah ditanyakan semenjak Plato dan Aristotheles. Bagi Satya isi kitab itu adalah pelajaran yang harus ditafsirkan dengan benar.

 Hal yang paling unik adalah cara Satya mendapatkan peta (dihujamkan ke pedati dengan anak panah oleh sosok yang tidak dikenal) dan letak kitab yang tidak masuk akal bagi Satya. Cara memberikan pelajaran yang tidak ditemukan dalam perkembangan novel Indonesia, sangat mungkin hipogram mengenai hal ini adalah novel berjudul Dunia Sophie (via Wikipedia.org) karya Joestein Gardeer yang dalam Bahasa Indonesia diterbitkan oleh penerbit Mizan pada tahun 1996. Pada novel Dunia Sophie, tokoh Sophie diberikan pelajaran filsafat oleh orang yang tidak diketahuinya dengan cara memberikan pertanyaan-pertanyaan mengenai banyak hal melalui kotak pos. Isi pertanyaannya pun tidak jauh berbeda, yakni mengenai ada dan tidak ada, sebuah pertanyaan dasar bagi orang yang akan mempelajari filsafat. Apabila dalam Kitab Omong Kosong kemudian diketahui bahwa yang menyebarkannya adalah Hanoman, dalam Dunia Sophie yang mengirim pelajaran tersebut adalah Alberto Knox. Kesamaan lainnya adalah tokoh Hanoman dan Alberto Knox, keduanya merupakan tokoh yang menginginkan membagi ilmu pengetahuan kepada orang lain.

Apabila asumsi hipogram isi dan cara  Kitab Omong Kosong dengan Dunia Sophie dalam hal cara memberikan pelajaran adalah benar maka Seno telah berhasil mendekonstruksi bahwa sangat mungkin epos Ramayana ditafsirkan dan dituliskan ulang melalui filsafat Yunani.

 

Daftara Pustaka

 

Ajidarma, Seno Gumira. 2006. Kitab Omong Kosong. Yogyakarta: Bentang

D.M, Sunardi. 1997. Ramayana. Jakarta: Balai Pustaka

Nafis, AA. 2005. Antologi Lengkap Cerpen. Jakarta: Kompas

Nugroho, Yanusa. 2004. Manyura. Jakarta: Kompas

Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Sindhunata. 2007. Anak Bajang Menggiring Angin. Jakarta: Gramedia

Wikipedia.org, diambil tanggal 01 Juni 2008 pukul 09.10.Wib

7 thoughts on “Novel Kitab omong Kosong sebagai pelopor dekonstruksi epos Ramayana

  1. aku memang belum sampai ke makna KOK.baru ke pola dekosntruktif aja.tapi menarik, klmenurut mu apa maknanya?salam kena

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s