Emha Ainun Nadjib: Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki:

Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki

Oleh: Emha Ainun Nadjib

ADA kesombongan orang berkuasa. Ada kesombongan orang kaya. Ada kesombongan
orang pandai. Juga ada kesombongan orang saleh.

Kita awali dengan suatu identifikasi elementer. Semua orang adalah rakyat,
tetapi kalau ada penguasa, maka yang dimaksud dengan rakyat tentu mereka yang
dikuasai. Rakyat adalah yang miskin, rakyat adalah yang bodoh, dan rakyat
adalah yang selalu belum saleh.

Identifikasi yang lebih ke tingkat praksis, rakyat selalu adalah pihak yang
diatur pihak yang berkuasa. Kenyataan ini punya peluang amat besar untuk
bertentangan dengan asas hakiki demokrasi, serta amat mencurigakan dipandang
dari rasionalitas dan proporsi manajemen
kenegaraan dan kebangsaan. Seorang polisi bisa terjebak untuk menganggap
dirinya adalah penggenggam hukum, dan rakyat adalah wilayah terapan hukum.

Kemudian konteks kesombongan orang kaya: dalam wacana pembangunan di hampir
semua kalangan, selalu rakyat adalah pihak yang disebut harus
dan sedang diberdayakan dari kelemahan ekonomi, dientaskan dari kemiskinan, dan
diselamatkan dari keterpurukan.

PANDANGAN ini amat laknat terhadap kenyataan bahwa sebenarnya rakyat adalah
pemilik kekayaan amat melimpah dari tanah rahmat Tuhan bernama Republik
Indonesia. Namun, kekayaan rakyat itu dijadikan langganan perampokan oleh tiap
penguasa. Dan setiap penguasa selalu tidak tahu diri berlagak menjadi pahlawan
yang akan melakukan perubahan dari kondisi miskin rakyat menuju tidak miskin.

Menurut parameter teknis statistik perekonomian dunia, rakyat Indonesia memang
rata-rata miskin, namun kenyataannya rakyat adalah
pengupaya ekonomi yang luar biasa di bawah atmosfer kejahatan negaranya
sehingga aneka upaya berekonomi kerakyatan itulah yang
berjasa mempertahankan negeri ini dari kebangkrutan total.

Kegiatan utama kebanyakan pejabat adalah mengacaukan stabilitas kesejahteraan
rakyat, menikusi administrasi keuangan negara milik
rakyat, mencuri dengan berjemaah dan dengan modus-modus yang makin tidak
kasatmata. Namun, ubet ekonomi rakyat, "budaya kaki lima" yang
cair dan longgar, menciptakan semacam "pernapasan dalam" yang membuat rakyat
terus survive meski hampir tak ada suplai udara dari negara.

Puluhan kali, bahkan mungkin ratusan atau ribuan kali, para penjahat penunggang
negara melakukan penipuan, penilapan dan pencurian
besar-besaran atas harta rakyat yang diamanatkan manajemennya kepada negara.
Namun, ribuan kali pula rakyat sukses mempertahankan diri
mereka dari kebangkrutan total.

Meski demikian, siapa pun yang sedang berpamrih ingin berkuasa dan ketika
kemudian benar-benar berkuasa: selalu dengan kemantapan dan
keangkuhan luar biasa, menyatakan akan dan sedang menyelamatkan rakyat dari
kebangkrutan.

KEMUDIAN konteks kesombongan orang pandai. Tak ada subyek yang lebih nyata yang
selalu diasosiasikan sebagai golongan penyandang
kebodohan, melebihi rakyat. Rakyat adalah orang bodoh, karena setiap kali orang
menjadi pandai, ia menjumpai dirinya bukan rakyat lagi.

Hampir setiap orang yang diam-diam menggolongkan dirinya sebagai orang pandai,
merancang diri untuk melakukan pemandaian atas rakyat.
Pejabat memberi penerangan terhadap kegelapan dan kebodohan rakyat. Calon-calon
sarjana mengajari rakyat selama kuliah kerja nyata. Kaum
intelektual menyebar aneka wacana untuk mendobrak kesempitan wawasan rakyat.
Duta-duta informasi dan komunikasi menabur ilmu dan pengetahuan agar rakyat
melek dunia.

Bahkan mahasiswa masuk kuliah hari pertama bisa terjebak anggapan diam-diam di
dalam dirinya, mulai hari itu ia melangkah meninggalkan
kebodohan rakyat yang kemarin masih jadi bagian darinya. Kapan ada rezim
tumbang, harus mahasiswa yang direkognasi sebagai pelaku
utama. Sebab, agent of change mustahil pelakunya adalah rakyat.

DAN akhirnya yang paling khianat, yang paling menyakitkan hati, yang mungkin
Tuhan pun tidak rela: adalah tradisi kesombongan orang saleh.

Rakyat dikasih pengajian tiap hari seakan-akan rakyatlah yang paling jahat
hatinya dan paling kotor hidupnya. Malam rakyat diulamai, pagi mereka
dipastori, siang mereka dipendetai, sore mereka dibegawani. Rakyat dibimbing
agar beriman seakan-akan rakyat adalah siswa-siswi taman kanak-kanak. Rakyat
disantuni, diajari bagaimana menata kalbu, padahal tak ada pakar penanggung
derita yang tingkat keahlian dan kemampuannya melebihi rakyat.

Jika Quran menyebut "berimanlah kepada Allah", yang dituju adalah rakyat, bukan
ustadz atau ulama. "Wahai orang-orang kafir"-itu kemungkinan besar rakyat,
mustahil Pak Kiai. "Dekatkanlah dirimu kepada orang saleh"- maksud Tuhan tentu
hendaknya rakyat
mendekat-dekat kepada ustadz, bukan ustadz mendekat-dekat dan belajar kepada
umat.

Bahkan dai, mubalig, ustadz, ulama, dijunjung-junjung, namun dengan
parameter industri dan ukuran feodalisme, untuk akhirnya  ditertawakan dan
ditinggalkan rakyat yang memiliki feeling dan jenis pengetahuan sendiri tentang
siapa ulama siapa pencoleng, siapa ustadz siapa  bakul pasar.

ADA semacam feodalisme naluriah dalam psikologi kita, mungkin karena
tak pernah sembuh dari trauma penjajahan fisik dan nilai yang tak
pernah usai dalam kehidupan kebangsaan dan kemanusiaan kita. Kalau
mendengar kata "rakyat", tanpa sengaja langsung ada perasaan look
down dan menemukan yang bernama rakyat itu ada di dasar jurang dari peta
nilai yang kita kenal tentang kemanusiaan dan kebudayaan.

Saya menduga naluri feodalisme, kelas dan "kasta" itu tidak menjadi
kikis misalnya oleh pengalaman intelektual atau kesadaran demokrasi
atau egalitarianisme. Misalnya, rakyat "yang paling rakyat" adalah
pembantu rumah tangga. Tak sedikit contoh bagaimana seorang profesor
doktor, pejabat tinggi, atau ulama memperlakukan pembantu rumah
benar-benar sebagai "pembantu rumah tangga" yang hampir berkonsep
mirip perbudakan. Rumah tangga awam terbukti bisa lebih egaliter,
santai, dan demokratis kepada pembantu rumah tangga.

Salah satu latar belakangnya mungkin karena peningkatan pendidikan
masih tidak mandiri dari stratifikasi kelas budaya. Makin tinggi
tingkat pendidikan seseorang, makin menumbuhkan perasaan lebih
unggul dan lebih tinggi derajatnya sebagai manusia. Dunia pendidikan tidak
punya concern mendasar terhadap nilai kedewasaan sosial, kerendahan
hati kemanusiaan, kematangan jiwa atau demokrasi kebudayaan.

KARENA kecurangan feodal juga kemudian: TKI-TKW, umpamanya, "rakyat
yang paling rakyat" lainnya, kita pandang sebagai faktor noda dan
kehinaan sebagai bangsa. TKW dijadikan suku cadang utama kalimat
penghinaan atas diri kita sendiri. Kita nyeletuk dengan hati yang
merasa nyaman dan puas: negeri lain mengekspor produk-produk
teknologi bergengsi peradaban tinggi, sementara negara kita mengekspor TKI-TKW.

Dan, kita tidak melakukan apa pun yang lain kecuali menghina dan
merendahkan TKI-TKW, anak-anak kita sendiri. Tidak menolong mereka,
tidak membela mereka dalam kasus-kasus mengerikan yang menimpa
mereka. Sebuah LSM di Jakarta melaporkan sekurang- kurangnya ada tiga juta
kasus TKI-TKW di luar negeri tanpa satu pun pernah dibereskan pihak
yang berwajib dan digaji untuk pekerjaan menangani nasib TKI-TKW.

Pekerjaan kita hanya menghina sambil pada saat bersamaan
memanfaatkan mereka di rumah tangga kita masing-masing. Kehidupan sehari-hari
rumah tangga kita amat bergantung pada mereka, upah yang dibayarkan kepada
mereka adalah jumlah gaji yang tidak pantas untuk penghidupan
manusia, plus bonus penghinaan dalam hati, cara berpikir dan tradisi perilaku
budaya kita atas mereka.

Dengan begitu, kita adalah serendah-rendahnya dan sehina-hinanya
manusia sehingga karena itu pula kita memiliki keperluan untuk
menghina mereka. Semakin hina dan rendah jiwa seseorang, semakintinggi
kebutuhannya untuk memperhinakan sesamanya. Memang secara psikologis demikian
itulah formula survival kejiwaannya.

Bahkan kalau mereka pulang ke Tanah Air, sudah disiapkan lembaga dan
birokrasi yang khusus melakukan dua pekerjaan hina. Pertama,
menyiapkan terminal dan gate khusus untuk memperhinakan mereka.
Kedua, kebijakan memperhinakan diri sendiri dengan cara memeras uang jerih
payah mereka bekerja hina bertahun-tahun di negeri orang.

Pemerasan itu berlangsung eskalatif dari tahap ke tahap. Resmi
maupun liar. Dan, puncak kehinaan kita adalah memperlakukan para koruptor
keluar masuk bandara sebagai raja, sementara TKI-TKW yang balik
kampung menguras uang dari luar negeri untuk sumbangan besar kepada
devisa negara justru kita injak-injak martabatnya.

BANGSA yang hina melahirkan generasi demi generasi hina, memilih dan
menjunjung presiden dan menteri-menteri hina, mengutus dan menggaji
perwakilan-perwakilan hina, sambil menyusu dan mempekerjakan
orang-orang yang dihina, menikmati kerja dan makanan anak-anak
terhina itu sambil terus memelihara di hati dan otak hinaan-hinaan atas
mereka.

Pada kenyataan hakikinya, rakyat adalah Ibu Bapak sejarah yang kita
TKITKW-kan sepanjang masa. Rakyat adalah TKI-TKW di genggaman tangan dan di
bawah injakan kaki para pemegang tongkat sejarah, baik
tongkat kekuasaan politik, modal, wacana, dan informasi. Rakyat yang ditipu
terus-menerus. Yang dibodohi dari era ke era. Yang dipecundangi dari
periode ke periode. Yang namanya disebut, dikomoditaskan,
diatasnamakan oleh setiap yang sedang berkepentingan untuk menguasai
mereka, kemudian melupakan dan melecehkan mereka begitu kekuasaan
itu tergenggam di tangannya.

Yang tidak pernah digubris hak-hak dasarnya. Yang kemuliaan posisinya
dipakai sebagai mahkota kekuasaan, namun dalam praktik pundak mereka
ditunggangi dan kepala harkat demokrasi mereka dibenamkan ke bagian
bawah rendaman cairan air liur teori-teori dan pidato-pidato demokrasi.

Rakyat yang hanya punya satu kegiatan kenegaraan: yaitu dikempongi oleh
kekuasaan, gigi-gigi kekuatan sejarahnya dibikin rampal sehingga mulut
kedaulatannya kempong. Rakyat yang bisa dipukuli kapan saja, dikelabui pagi
hari diakali sore hari, dininabobo siang hari dicuri miliknya malam hari.

RAKYAT yang diperhinakan oleh gaya kepemimpinan yang memakai merah darah mereka
sebagai gincu. Rakyat yang dibodohi sehingga akhirnya tidak lagi mengenal
kebodohan. Rakyat yang terus-menerus dan terlalu lama dihina sehingga akhirnya
benar-benar menjadi hina tanpa tersisa sedikitpun kesadaran dan pengetahuan
bahwa mereka hina.

Jangankan membedakan mana kehinaan mana kemuliaan di dalam
kompleksitas kehidupan berbangsa, sedangkan sekadar bermain sepak bola kalau
kalah tak tahu kenapa kalah dan kalau menang salah menemukan sebabnya kenapa
menang.

Visi, wawasan, ilmu, identifikasi, dan pemetaan nilai-nilai dan realitas telah
menjadi suatu jenis seni rupa impresionis instan. Kehidupan intelektual yang
menjadi muatan utama komunikasi dan informasi sudah mengalami aneka pecahan,
pengepingan-pengepingan, syndrome of disconnected awareness. Bahkan dalam
mengomentari pertandingan tinju, dalam satu ronde kita mengalami pergantian
parameter sampai empat-lima kali, saking tidak mendasar dan tidak menentunya
prinsip ilmu pertinjuan kita.

Bangsa yang sekaligus mengalami ketersesatan intelektual, politis, kultural,
spiritual, bahkan ketersesatan teknis untuk soal-soal yang sangat sederhana.
Mencari Tuhan, yang didatangi dukun. Mencari ulama, yang dikejar pedagang.
Mencari orang pandai, yang ditunggu pelawak.
Mencari soto enak, pergi ke tukang tambal ban. Mencari pemimpin, yang dijunjung
bintang film. Mencari bintang, yang diburu meteor. Mencari tokoh, yang
disongsong perampok. Plastik diwarnai keemasan, emas dijadikan ganjal lemari.
Nasi diperlakukan sebagai kerupuk, terasi didewakan sebagai makanan utama.

Bangsa yang kehilangan parameter hampir di segala bidang. Bangsa yang memilih
langsung presidennya, namun tanpa melewati pijakan substansi demokrasi. Bangsa
yang ditenggelamkan oleh air bah informasi tiap hari, namun semakin tidak
mengerti apa yang seharusnya mereka mengerti. Bangsa yang sudah kehilangan
ukuran apakah mereka sedang
maju atau mundur, apakah mereka sedang dihina ataukah dimuliakan, apakah mereka
pandai atau bodoh, apakah mereka menang atau kalah. Bangsa yang peta
identifikasi dirinya makin terhapus, sebagai manusia, sebagai rakyat, atau
bangsa.

Bangsa yang-sesekali-menjalankan hukum, namun tanpa kesadaran dan hikmah hukum,
tanpa kesanggupan untuk mengapresiasi nikmatnya berkebudayaan hukum. Bangsa
yang sangat tampak secara wadak sedang menjalankan ajaran agama, namun hampir
tak terdapat pada perilakunya dialektika berpikir agama, tak ada kausalitas
mendasar antara input dan output nilai agama. Bahkan terdapat diskoneksi
ekstrem antara praksis kehidupan beragama dengan hakikat Tuhan.

YANG paling beruntung dalam kehidupan sepanjang ada sejarah umat manusia adalah
Pemerintah Indonesia. Karena semakin hari rakyatnya semakin tidak paham apakah
pemerintahnya berhasil atau gagal. Semakin tidak memiliki kepekaan dan sasmita
apakah mereka dicintai atau tidak oleh pemerintahnya. Semakin kehilangan ukuran
apakah dari pemerintahnya mereka sedang memperoleh kesetiaan dan semangat
pengabdian, ataukah pengkhianatan dan proses-proses penghancuran.

Sungguh siapa saja yang duduk dalam struktur pemerintahan negeri ini adalah
"Kiai Bejo", "Kiai Untung" atau "Kiai Hoki". Orang yang mendapatkan keuntungan
meskipun tanpa bekerja. Salah satu pemeo membuat rumus: orang bodoh kalah oleh
orang pandai, orang pandai kalah oleh orang berkuasa, orang berkuasa kalah oleh
orang kaya, orang kaya kalah oleh orang bejo.

Setiap Pemerintah Indonesia tidak terlibat dalam konstelasi pemeo itu,sebab
mereka sekaligus pandai, berkuasa, kaya, dan bejo.

* Budayawan

Kompas - Kamis, 17 Februari 2005 

tulisan ini diambil dari: http://osdir.com/ml/culture.region.indonesia.ppi-india/2005-02/msg00845.html
pada tanggal10 Juni 2008 pukul 23.46 WIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s