analisis strukturalisme genetik

Analisis Strukturalisme Genetik
Cerpen Yang Sudah Hilang
Karya Pramoedya Ananta Toer
Oleh: Pekik Nursasongko

Pendahuluan

Pramoedya Ananta Toer adalah seorang sastrawan Indonesia yang sangat produktif. Ia beberapa kali dicalonkan sebagai penerima nobel sastra. Karya-karya Pramoedya mampu melewati perbatasan zaman, usia, ideologi, bahkan benua. Seolah-olah karya tetap aktual meski ditulis berpuluh tahun silam. Dari sekian banyak kritikus sastra masih sangat sedikit yang menganalisis cerpen-cerpen Pramudya. Mayoritas dari mereka sudah cukup puas hanya dengan menganalisis novel-novelnya saja. Padahal cerpen-cerpen Pramudya juga memeiliki bobot yang mengagumkan, cerpen yang mampu menggambarkan bagaimana keadaan sosio-kultural Indonesia di masa silam. Salah satu cerpen karya Pramudya yang menarik adalah Yang Sudah Hilang, sebuah cerpen yang ditulis Pramudya pada tanggal 13 Januari 1952.

Teori strukturalisme genetik dipilih karena melalui teori inilah cerpen karya Pramoedya mampu dianalisis dari dua sisi (strukturalnya yang otonom dan sosio-kultural masyarakat dimana cerpen tersebut lahir) dan hubungan antara dua sisi tersebut.

Struktur cerpen Yang Sudah Hilang

Faruk (1994: 17) menyebutkan bila struktur karya sastra bagi Goldmann mencakup hubungan antar tokoh dalam teks dan hubungan tokoh dengan dunia atau objek lain di sekitar tokoh. Asumsi tersebut secara tidak langsung menyebutkan bila Goldmann mempunyai konsep struktur yang bersifat tematik, yang memusatkan perhatian pada relasi antara tokoh dengan tokoh dan tokoh dengan objek yang ada disekitarnya. Dengan demikian, Goldmann membdedakan teks sastra dengan filsafat yang mengungkapkan pandangan dunia secara konseptual dan sosilogi yang mengekspresikan pandangan dunia secara empirisitas.
Tokoh merupakan bagian yang sangat penting dalam sebuah cerita. Walaupun tokoh merupakan hasil imajinasi pengarang namun plausibilitas atau kemasuk akalan kehidupan tokoh (termasuk perasaan dan pikiran) harus tetap ada. Berdasar fungsinya tokoh dibagi dalam dua kategori, tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama sendiri mencakup tokoh protagonis dan antagonis. Tokoh protagonis ialah tokoh yang merupakan pengejawantahan norma-norma dan nilai-nilai yang sesuai dengan pandangan dan harapan pembaca, sedangkan tokoh antogonis adalah tokoh yang menjadi lawan bagi tokoh protagonis sehingga menciptakan konflik (Alternbernd dan Lewis via Nugiyantoro, 2000: 178). Penamaan tokoh tambahan didasarkan atas fungsinya yang hanya menjadi pelengkap keberadaan tokoh utama, meskipun kehadirannya tetap diperlukan sebagai pendukung jalannya cerita (Sudjiman, 1998: 19).
Nugiyantoro (2000: 176- 177) menyebutkan bila penentuan seorang tokoh masuk dalam kategori utama atau tambahan dapat ditentukan melalui intensitas kemunculannya dalam rangkaian peristiwa yang membangun cerita. Goldman (1997: 1-2) menyebut tokoh sebagai tokoh hero, tokoh yang mencari nilai-nilai autentik dalam dunia yang memburuk. Faruk ( 1994: 34) menambahkan bila tokoh hero yang dimakud Goldman bisa berwujud kolektif (lebih dari satu orang) atau individual.

Tokoh hero dan probelematiknya

1. Tokoh Bunda

Tokoh Bunda dijadikan sebagai tokoh protagonis karena intensitas keterlibatannya yang tinggi di dalam cerpen Yang Sudah Hilang dan selalu hadir sebagai pelaku yang dikenai konflik, sedangkan tokoh antogonis dalam cerpen Yang Sudah Hilang adalah tokoh bapak. Melalui prespektif strukturalime genetik, maka tokoh hero dalam cerpen Yang Sudah Hilang adalah tokoh Bunda. Asumsi ini didasarkan atas problem kehidupan dan pererjuangan keras untuk mendapatkan nilai-nilai autentik dalam hidupnya.
Dalam cerpen Yang Sudah Hilang tokoh Bunda digambarkan sebagai sosok yang menganut paham theisme. Ia sangat percaya akan manfaat sembahyang dan membaca al-Qur’an. Hal tersebut nampak pada percakapan berikut:
“Untuk apa orang bersembahyang, bu?” pernah aku bertanya.
“Supaya mendapat rahmat dari Tuhan”, katanya. “Nanti kalau engkau sudah besar engkau akan mengerti sendiri apa gunanya. Engkau sekarang masih kecil. Lebih baik engkau bermain-main saja”(halaman 13)

Sosok bunda dalam cerpen Yang Sudah Hilang juga dilukiskan sebagi seorang pekerja keras. Meskipun ia seorang perempuan namun ia biasa mencangkul. Seperti nampak pada kesaksian tokoh Aku mengenai Bundanya:
Bunda biasa mencangkul di ladang. Dan di waktu-waktu seperti itu, kalau aku tak sedang bermain-main, pasti ikut dengannya…. (halaman 25)

2. Relasi tokoh Bunda dengan tokoh Aku
Dalam hubungan dengan tokoh Aku, tokoh Bunda digambarkan sebagai sosok yang selalu berusaha menentramkan tokoh Aku. Seperti dapat dilihat dalam cuplikan berikut:
Kemudian bunda menyanyikan lagu daerah. Dan suaranya yang lembut-lunak itu mendayu-dayu dan menidurkan ketakutanku. Kubelai-belai rambutnya yang kacau ditiup angin, kupermainkan kupingnya yang dihiasi dengan markis berlian itu. Kemudian, kemudia terdengar suaranya yang manis dalam perasaanku: “Engkau mengantuk. Mari kutidurkan”. Halaman 2.

Selain menjadi sosok yang selalu berusaha menentramkan bagi tokoh Aku, tokoh Bunda juga selalu berusaha agar anaknya tidak mengetahui apa yang menyebabkannya sering menangis. Hal tersebut nampak pada kutipan berikut:
“Ibu! Ibu!” aku berseru
Ibu tak menyahuti, juga tak bergerak dari tempatnya. Dengan susah payah aku naik ke atas ranjang. Dan kulihat mata Bunda merah, sebentar-sebentar dihapusnya dengan selimut adikku kecil. Aku terdiam. Lama. Terdiam oleh ketakutan. “Mengapa menangis bu?” aku bertanya. Baru bunda memandang aku. Diraihnya aku dan ditidurkannya di sampingnya.
“Mengapa bu?” aku bertanya lagi.
“Tidak apa-apa, anakku”. (Hlm 15)

Sangat mungkin tujuan sikapnya tersebut ditujukan agar si anak yang masih kecil tidak larut dalam kesedihan.

3. Relasi Tokoh Bunda dengan tokoh Ayah
Dalam cerpen Yang Sudah Hilang tokoh Bunda sangat jarang terlibat percakapan dengan tokoh Ayah. Hal ini sangat mungkin disebabkan oleh banyaknya perkara yang berseberangan jalan antara tokoh Bunda dan Ayah sehingga keduanya bercerai. Contoh kecil adalah tanggapan tokoh Bunda saat tokoh Ayah membelikan banyak mercon (petasan) di hari lebaran. Menurut tokoh Bunda hal itu dilarang oleh agama karena merupakan peralatan ibadah Tionghoa

4. Relasi tokoh Bunda dengan tokoh Nyi Kin
Relasi antara tokoh Bunda dan tokoh Nyi Kin adalah relasi antara tuan dan pembantu. Sehingga beberapa kali tokoh Bunda meminta Nyi Kin untuk memandikan anaknya. Namun relasi tersebut terputus akibat ulah Nyi Kin yang mencuri bumbu dapur, dan tokoh Bunda tak mengijinkan hal seperti itu terjadi di rumahnya.

5. Relasi tokoh Bunda dengan tokoh Pembantu Baru
Relasi antara tokoh Bunda dan tokoh Pembantu Baru sama persis dengan relasi tokoh Bunda dengan tokoh Nyi Kin. Perbedaannya adalah terputusnya relasi antara tokoh Bunda dengan tokoh Pembantu Baru disebabkan oleh pengunduran diri tokoh Pembantu Baru.
6. Relasi tokoh Bunda dengan Dipo
Dalam cerpen Yang Sudah Hilang Tokoh Dipo adalah salah satu anak angkat tokoh Bunda. Sebagai anak angkat relasi yang terbangun antara keduanya tidak bisa menyamai relasi tokoh Bunda dengan tokoh Aku.
7. Tokoh Aku
Keterpecahan yang dibicarakan Goldmann di atas dalam Keterpecahan yang dibicarakan Goldmann di atas dalam Yang Sudah Hilang karya Pramoedya dialami oleh tokoh aku. Tokoh aku mengalami kesenjangan antara dunia ideal yang diharapkannya dengan dunia realitas yang dihadapinya. Tokoh aku dalam Yang Sudah Hilang adalah seorang anak yang memiliki perasaan yang cukup peka. Hal ini tergambar dalam sikap tokoh seperti tersebut di bawah ini:
Dari depan rumah kami nampak pucuk rumpun-rumpun bamboo yang hijau hitam. Bila angin meniup mereka bersuling-suling meliuk yang selalu menimbulkan perasaan takut dalam hatiku di waktu kecil. Segera aku lari ke pangkuan bunda dan menangis. …..”Ibu bambu itu menangis” ( Toer, 1-2)

Saat ada bunyi keriut bambu, tokoh aku menangis karena merasa suara itu adalah suara bambu yang menangis. Dia tidak nyaman mendengar suara keriut bambu, dalam sangkanya, suara keriut bambu sama dengan suara tangisan. Karena itulah dia ikut menangis. tokoh aku mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Ibunya, hal ini terlihat pada penggalan cerita di atas, saat ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman, yaitu suara keriut bambu, dia lari ke pangkuan ibunya. Ibu dipandang sebagai sosok yang mampu menenangkan keresahannya. Seperti halnya anak-anak kecil lain yang memang lebih mencari ibu dibanding mencari bapaknya saat menangis. Ibu dinilai dapat memberikan kasih sayang, perlindungan dan rasa aman yang diperlukannya.

8. Relasi tokoh Aku dan Bapak
Bapak dalam Yang Sudah Hilang digambarkan sebagai seorang laki-laki yang berprofesi sebagi Guru. Sebagai seorang bapak, dia kasih terhadapa anaknya, pun demikian sang aku sebagai seorang anak kasih terhadap bapaknya.
Bila pagi hari ayah hendak berangkat ke sekolah dan aku melihat ini, segera aku minta ikut ( Toer, 11). Sebagai seorang anak, dia enggan berpisah dengan bapaknya. Hubungan keluarga ini awalnya sangat haromonis, ayah-ibu dan anak-anak banyak menghabiskan waktu bersama, namun lambat laun sang bapak jadi sering tidak pulang kerumah. Hal ini menimbulkan kekhawatiran dalam diri tokoh aku.
”Dimana Bapak, Bu?”
”Bapak sedang bekerja”
”Sudah begini malam?”
”Ya, Bapak banyak bekerja”
”Kapan Bapak datang, bu?”
pertanyaan-demi pertanyaan tentang bapaknay selalu saja diajukan tokoh aku. Tokoh aku melihat keganjilan dengan jarangnya melihat Bapak pulang ke rumah.
Rasa sayang tokoh aku terhadapa Bapak juga tampak . pada penggalan berikut ini
”Sudah makan engkau?”
”Sudah. Nanti kalau bapak pulang aku turut makan lagi. Aku senang makan bersama-sama Ibu dan Bapak. Tapi alangkah lamanya- dan bapak belum datang-datang juga. Nanti malam barangkali Bapak datang. Datang, bu?” (Toer, 17)

Pertanyaan tersebut diajukan kepada ibunya sekaligus kepada dirinya sendiri. Dalam dunia idealnya, bapak akan datang nanti malam dan dia bisa makan malam bersama bapak dan ibunya, namun seringnya harapan itu tidak terwujud.

Sehabis mandi, ayah tak juga datang. Aku mulai menangis. kutolak segala janji dan makanan yang disuguhkan di depan hidungku. Malam itu ayah tak juga datang dan aku menangis terus tak habis-habisnya (Toer, 18)

9. Relasi tokoh Aku dan Pembantu
Tokoh aku sempat diasuh oleh 2 orang pembantu pada masa kecilnya. Pengasuhnya yang pertama adalah nyi Kin, hubungan tokoh aku dengan nyi Kin cukup dekat, Nyi kIn menyayangi tokoh aku seperti manyayangi anaknya sendiri. Saat Nyi Kin pergi, tokoh aku merasa sangat kehilangan, terlihat dalam potongan cerita berikut ini
Aku masih ingat, waktu itu nyi Kin jatuh sakit dan dia pergi tanpa memberitahukan keberangkatannya kepadaku. Aku cari dia kemana-mana. Tapi dia tak dapat kutemu. Dan aku menangis berpanjang-panjang. Ada terasa suatu kekosongan besar dalam hatiku (Toer, 7)
Akan halnya dengan pembantu setelah nyi Kin, tokoh aku juga terkesan, namun tidak sedalam kesannya terhadap nyi Kin.
jadi kepergian babu itu tak meninggalkaan kesan apa-apa pada kami serumah (Toer, 11)

10. Relasi tokoh Aku dan Dipo
Yang dimaksud saudara angkat di sini adalah anak-anak yang diasuh oleh Bapak Ibu tokoh aku. Hubungan tokoh aku dengan saudara angkatnya tidak begitu banyak diceritakan, kecuali hanya sebagai teman bermain saja. Terlihat dalam penggalan dialog antara tokoh aku dengan bapak saat bapak henadak pergi
”mau pergi kamana, pak?”
”kerja”
”bolehkah aku ikut?”
”tidak boleh. Nanti kalau sudah besar engkau boleh pergi sendiri. Main-main sajalah sengan mas-masmu” (Toer, 22)

Latar

Konsep struktur menurut Goldmann tidak hanya mencakup hubungan tokoh dengan tokoh, namun juga mencakup hubungan tokoh dengan dunia atau objek disekitar tokoh. Dunia dan objek disekitar tokoh selanjutnya disebut latar.
Dalam analisis cerita rekaan, latar atau setting juga merupakan salah satu unsur yang sangat penting bagi penentuan nilai estetik karya kesusastraan. Latar biasa disebut sebagai atmosphere atau setidak-tidaknya merupakan bagian atmosphere atau tone secara keseluruhan. Peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam sebuah cerita rekaan umumnya terjadi pada suatu lingkungan tertentu, baik lingkungan tempat maupun lingkungan waktu. Demikian halnya dengan keseluruhan lingkungan pergaulan tokoh suatu cerita rekaan, termasuk di dalamnya kebiasaan-kebiasaan, pandangan hidup, latar belakang sesuatu lingkungan juga dapat dimasukkan ke dalam pengertian latar. Sehingga latar dalam cerita rekaan ialah segala informasi tentang tempat atau ruang cerita yang digambarkan secara kongkret dan jelas. Oleh karena itu latar dalam cerita rekaan terdiri dari lima aspek yaitu:
A. Latar Tempat
Latar tempat dalam cerpen Yang Sudah Hilang menunjuk lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan yakni kota Blora di Jawa Tengah. Terdapat rumah tokoh yang terletak di dekat Kali Lusi yang melingkari separoh bagian kota Blora. Di dalam rumah itu terdapat dapur dimana tokoh aku menghabiskan waktu di pagi hari bersama babunya (Nyi Kin dan babu baru), dan ruang kamar yang menjadi titik sentral terjadinya berbagai peristiwa antara tokoh aku, bunda/ibu, dan ibu.
Di dapur tokoh aku banyak menghabiskan waktu yaitu ketika dia minta mandi dengan Nyi Kin dan pada saat setelah bangun pagi bersama babu yang baru. Di dalam dapur terjadi peristiwa bahwa tokoh aku melihat sosok hantu sehingga pada akhirnya dimarahi oleh bundanya. Hal itu dapat dilihat dari penggalan cerita yaitu:
“ … …Pelahan aku pergi mendapatkan Nyi Kin di dapur minta mandi..”.(hal: 3).
” …… tiap pagi kami berdualah yang paling dahulu bangun…
Dapur kami berdiri lepas dari rumah untuk tempat tinggal. Bangun atapnya tak ubahnya dengan lembaran seng yang dilipat sedikit dan diletakkan di atas rangka dapur….
……Di lubang atap yang berbentuk segi tiga itu nampak olehku sebuah kepala besar menjenguk-jenguk…aku lihat janggut dan kumisnyaputih dan seluruh mukanya hitam-lebih hitam dari alam luar….
Pernah juga aku bercerita tentang apa yang kulihat itu pada bunda. Bunda tak pernah mau mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Kadang-kadang sebaliknya malah. Ia merengut….”(hal 10-11).

Dalam kamar, yang menjadi titik sentral terjadinya peristiwa terdapat berbagai peristiwa yaitu: ketika tokoh aku mendapati ibunya mengaji dan ia bertanya untuk apa orang sembahyang?, kemudian ibu menjawabnya yang di dalamnya terdapat suatu ideologi theisme atau ketuhanan. Dan di ruang kamar tersebut tokoh “aku” banyak menanyakan tentang bapaknya yang jarang pulang ke rumah dan sebagai tempat bunda menenangkan kondisi “aku”. Di kamarnya pula tokoh “aku” sering melihat ibunya menangis. Salah satu pelukisan setiap kejadian tersebut dapat dilihat dalam peninggalan cerpen:
“ ……Untuk apa orang bersembahyang, ibu?”pernah aku bertanya. “Supaya mendapat rahmat dari Tuhan,”katanya.” Nanti kalau engkau sudah besar engkau akan mengerti sendiri apa gunanya…”.(hal: 12-13).
“ ……Dimana bapak, bu?”tanyaku lagi. “Ya bapak banyak bekerja”. “Kapan bapak pulan dating, bu?”. Kalau engkau bangun tidur, bapak nanti pulag. Ayo tidur lagi, anakku”. Dan dibawanya aku ke ranjang. Sebentar bunda menina-bobokkan…”. (hal: 13).
“ ……Dengan susah payah aku naik ke atas ranjang. Dan kulihat mata bunda merah sebentar-sebentar dihapusnya dengan selimut adikku kecil…“Mengapa menangis, bu?” aku bertanya lagi…”. (hal: 15).

Penggalan peristiwa tersebut hanya satu contoh peristiwa dari setiap peristiwayang terjadi dalam kamar. Dan setiap peristiwa tersebut merupakan masalah yang menjadi masalah sentral yang melatarbelakangi berbagai masalah selanjutnya. Permasalahan tentang ketidakjelasan mengapa ayahnya jarang pulang sehingga membuat kondisi “aku” sangat merindukannya sehingga timbul berbagai masalah bahkan membuat kesedihan hati ibunya dan membuatnya menangis.

B. Latar Lingkungan Kehidupan atau latar Sosial
Latar sosial dalam cerpen ini berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial, kebiasaan hidup, keyakinan, cara berpikir ataupun bersikap dari tokoh. Dari paparan latar tempat diperoleh gambaran bahwa latar sosialnya mencakup kehidupan sebuah keluarga yang tinggal di sekitar Kali Lusi. Kehidupan keluarga tersebut tergolong mapan karena dapat memiliki babu/pembantu sehingga tidak terdapat latar ekonomi. Justru dalam cerpen ini terdapat suatu keyakinan tentang ketuhanan/religi yang meyakini ajaran Islam yang dapat terlihat dari perilaku Bunda yang sedang mengaji, serta tradisi membunyikan mercon/petasan pada hari raya merupakan tradisi orang Tionghoa, dan hal itu merupakan ideologi dalam kehidupan tokoh.
Dalam cerpen tersebut juga terdapat suatu latar sosial yang mencerminkan orang-orang penduduk kota kecil yaitu pandangan adanya bahwa orang akan kejatuhan sial-sial untuk seumur hidupnya-bila telah menurunkan manusia yang disebut umum tidak sah. Pandangan tersebut diungkapkan oleh Bunda kepada aku pada saat ia kecil sehingga pada saat dewasa dia baru mengerti akan pandangan tersebut (hal: 24-25). Dan latar sosial lain ialah kehidupan pertanian bunda yang ditunjukkan dengan aktifitasnya mencangkul di ladang (hal: 25).
C. Latar Sistem Kehidupan
Sistem kehidupan yang terjadi dalam cerpen tersebut ialah sebuah keluarga yang terdiri dari bapak, ibu/bunda, dua orang anak kandungnya, dua orang anak angkat serta pembantu/babu. Akan tetapi berjalannya sebuah keluarga dalam cerpen ini secara dominan terletak pada tangan ibu atau terjadi perubahan posisi yang seharusnya di pegang oleh bapak. Hal ini dikarenakan ayahnya yang jarang pulang ke rumah sehingga ibu yang mengatasi berbagai persoalan dalam keluarga tersebut misalnya ketika anaknya “aku” merindukan kepulangan bapaknya dan termasuk dalam urusan mengenai babu/pembantunya, misalnya tentang pengambilan keputusan tentang pemecatan Nyi Kin yang telah mencuri bumbu dapur.

D. Latar Waktu
Latar waktu dalam cerpen Yang Sudah Hilang ini berkaitan erat dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Masalah waktu tersebut dapat terbagi dua antara masa kecil tokoh aku dan masa ia dewasa. Hal itu dikarenakan tokoh menceritakan hal-hal dalam masa kecilnya yaitu tentang kehilangan hal yang terdapat dalam masa kecilnya dengan seiring waktu yang berjalan dan membuat ia tambah dewasa. Dalam cerpen itu aku menceritakan hal-hal yang hilang seiring kali Lusi yang dianggapnya mengiringi berbagai kehilangannya. Hal itu bermula dari kehilangan lagu-lagu daerah yang sering dinyanyikan bunda waktu ia kecil, uang sen yang berada dalam mimpinya, kehilangan babu”nyi Kin” karena meninggalkan rumahnya, kehilangan saat-saat aku hendak tidur ibunya yang selalu menidurkan dan memberinya kehangatan, dan mulai kehilangan ayahnya yang jarang pulang ke rumah dengan alasan sibuk bekerja. Dari banyaknya kehilangan itu membuat tokoh aku selalu mengingatnya hingga waktu dewasa dan baru ia mengerti ketika ia dewasa dengan aku mengenangnya dan menceritakan kembali tentang kehilangan tersebut. Misalnya saja dengan peristiwa kepercayan yang aneh orang-orang penduduk kecil Dan hal itu baru diketahui setelah dewasa. Kepercayaan tersebut ialah bahwa orang akan kejatuhan sial-sial untuk seumur hidupnya-bila telah menurunkan manusia yang disebut umum tidak sah (hal 24).

Biografi Pramudya

Perjalanan hidup Pramudya dimulai dari kelahirannya di Blora tanggal 6 Februari 1925. Ayahnya bernama Mastoer (Bekerja sebagai guru di Holandsch-inlandsche Scool, namun karena jumlah gaji yang sedikit ia kemudian mengajar di Institute Boedi Oetomo)dan ibunya bernama Oemi Saedah. Kemunculan berbagai bentuk pergerakan yang merupakan embrio pergerakan nasional Indonesia turut membentuk karakter Pramudya. Ditutupnya sekolah untuk pribumi Institute Boedi Oetomo ternyata mengguncang perekonomian keluarga Mastoer dan membuat Mastoer kembali bersedia menjadi guru di HIS. Sejak saat itu hubungan Pramudya dan ayah pecah, pramudya kecewa dengan keputusan ayahnya tersebut. Pramudya menganggap ayahnya menyerah total terhadap Belanda dan nasib. perlakuan ayahnya yang kasar, dan menganggap Pram sebagai anak bodoh menyebabkan Pram menjadikan ibunya sebagai satu-satunya tempat mengadu. Berkat ibunya pulalah Pram bisa melanjutkan ke sekolah Radio Volkchool. Kebersamaan Pramudya berakhir setelah ibunya dibunuh oleh penyakit TBC pada tanggal 2 Maret 1942 (Widiatmoko. 2004:52-55).
Tanggal 2 Mei 1950 dengan bantuan Menteri PPK dr. Abu Hanifah, Pram diangkat sebagai redaktur Balai Pustaka bagian Kesusastraan Modern dengan gaji dua ratus empat rupiah. Namun kekecewaan Pram terhadap pimpinan Balai Pustaka membuatnya mengundurkan diri dan mendirikan Literary & Features Agenci Duta yang berkecimpung di dunia pendidikan, bahasa, kesenian, dan kebudayaan. (Widiatmoko. 2004: 60)
Melalui karya-karyanya Pram semakin dikenal publik, hal itu turut menjadikan rumah tangganya membaik dan mampu mebelu rumah. Bersamaan dengan hal itu anak Pram yang pertama lahir. Tentulah hal tersebut mempengaruhi perkembangan kehidupan sosialnya, terutama dalam hubungannya dengan pengarang-pengarang lainnya. Salah seorang pengarang yang sering mengunjungi Pram adalah A. Darta, seorang Marxis dan juga anggota Lekra yang didirikan pada tahun 1950.

Hubungan Cerpen dengan Biografi

Pram merupakan salah satu tokoh yang sering keluar masuk penjara oleh karena itu ia mempunyai rasa kemanusian dan memahami pentingnya kebebasan bagi manusia. Sisi kemanusiaan yang ditonjolkan Pram dalam cerpen Yang Sudah Hilang antara lain tercermin dalam diri tokoh Nyi Kin yang diusir dari rumah “aku” karena alasan mencuri. Selain itu, Pram lebih menonjolkan sisi rasionalitas yang tercermin dalam diri tokoh bunda. Hal tersebut tampak dalam cuplikan dibawah ini.
Pernah juga aku bercerita pada bunda tentang apa yang kulihat itu pada bunda. Bunda tak mau mendfengarkan dengan sungguh-sungguh kadang-kadang sebaliknya malah . ia merenggut. Dipandangnya aku dengan matanya aku dengan marah: ” siapa yang bercerita padamu tentang setan-setan itu ?”………..
“engkau tidak boleh membohongi dia..”
Ia juga banyak menyoroti kehidupan sosial disekitarnya. Pada tahun-tahun sebelum menulis cerpen Yang Sudah Hilang banyak penyakit yang muncul seperti TBC yang telah merenggut nyawa ibunya. Dalam cerpen Yang Sudah Hilang ia juga menulis adanya penyakit seperti raja singa.
Ibu Pram memberikan pengaruh yang kuat bagi pembentukan watak Pram dan juga jalan pemikiranya. Bagi Pram sendiri ia menulis cerpen dan karyanya yang lain terinpirasi dari ibunya. Dalam cerpen aku tersebut ia menggambarakan bagaimana peranan perempuan sangat besar bagi perkembangan sang anak. Selain itu terdapat pula tokoh perempuan seperti Nyi kin dan babu yang kedua. Karakter kuat seorang perempuan dalam karangan fiksinya didasarkan pada ibunya, “seorang pribadi yang tak ternilai, api yang menyala begitu terang tanpa meninggalkan abu sedikitpun”. Ketika Pramoedya melihat kembali ke masa lalu, ia melihat “revolusi Indonesia diwujudkan dalam bentuk tubuh perempuan – ibunya. Meskipun karakter ibunya kuat, fisik ibunya menjadi lemah karena TBC dan meninggal pada umur 34 tahun, waktu itu Pramoedya masih berumur 17 tahun.
Hubungan cerpen dengan kondisi sosial historis zamannya
Faham realisme sosialis mendasari Pramoedya untuk membuat karya sastra yang kental dengan nuansa sejarah bangsanya. Pramoedya menganggap rakyat yang mengerti sejarah bangsa dan dunianya dengan baik akan mampu berfikir secara dialektis. Sehingga dalam karya-karyanya Pramoedya seringkali terlihat mengajak pembacanya untuk memandang sejarah sebagai realitas yang terus bergerak (Widiatmoko. 2004: 88). Hal tersebut nampak pada kutipan berikut:
Kadang-kadang bunda berparas kesal bila bapak tirinya datang. Dan pernah suatu kali ia berkata padaku dengan jalan tak langsung: “Engkau tak boleh menjalani jalan maksiat” katanya. “Lihatlah kakekmu itu. Begitulah akibatnya. Segala usahanya gagal. Segala doa dan harapannya tak sampai ke tempatnya.” (hlm: 24-25)

Kutipan di atas menunjukkan usaha tokoh Bunda agar tokoh Aku tak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan kakeknya. Dalam hal ini sejarah pendahulunya dijadikan pelajaran.
Dalam cerpen Yang Sudah Hilang Pram mencoba menggambarkan keadaan zamannya yaitu sekitar tahun 1950. Pada tahun tersebut terjadi revolusi besar dari bentuk pemerintahan Indonesia yang berbentuk serikat menjadi bentuk republik atau kesatuan. Konsep mengenai revolusi atau perubahan tersebut digambarkan oleh Pram dalam cerpen Yang Sudah Hilang. Dalam cerpen tersebut terdapat konsep perubahan yang dominan.
Selain itu, juga tampak adanya perasaan kurang senang terhadap lingkungannya yang ia ungkapan melalui cara penggunaan kosakata atau kalimat dalam cerpen Yang Sudah Hilang tersebut seperti percakapan yang tidak berkeputusan, tidak lancar, kalimat yang pendek-pendek, serta kerap kali dalam bentuk seruan-seruan. Adanya perkataan yang berulang ulang juga tampak dalam cerpen tersebut seperti perkataan Yang Sudah Hilang. Terdengar didalam cerpen-cerpennya, manusia yang bergulat dengan dirinya sendiri dalam mencari jawaban bagi segala pertanyaan yang berulang-ulang kembali pada alasan yang lama yang kerap kali bukan berupa bukti yang jelas.Selain itu, ia juga menggunakan bahasa bahasa Jawa sehari-hari dari budaya Jawa klasik.
Pekerjaannya sebagai seorang sosialis membuatnya kerap mengamati lingkungannya seperti dalam cerpen Yang Sudah Hilang. Dalam cerpen tersebut ia menggambarkan banyaknya masalah kehidupan seperti perceraian, penyakit, gagalnya panen yang timbul sebagai akibat adanya perubahan sosial dan politik dalam pemerintahan.
Pram lebih menonjolkan sisi-sisi manusiawi, rasional, pro tionghoa, perampasan hak dan kebebasan dalam berbagai novel dan cerpen karangannya. Dalam cerpen Yang Sudah Hilang, Pram seperti mengisahkan jalan kehidupannya sendiri. Antara pengalaman, pengamatan sosial,dan berbagai kenangan yang ada,ia rangkum menjadi satu. Di mulai dari kenangan-kenangan terhadap ibunya yang selalu menghiburnya kala sedih,menidurkannya ketika tubuhnya yang kecil itu telah lelah dan capai, hingga menyuapinya.
Diceritakan pula dalam cerpen ini, bahwa ibunya adalah orang yang taat bersembahyang, meski ketika tokoh Aku menanyakan dimana bapak, ibunya terpaksa berbohong untuk menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. Keadaan yang membuat ibunya terpojok. Mungkin dapat dikatakan hal itu menggambarkan kehidupan Pram yang dimasa lalu bapaknya merupakan seorang pejuang sehingga ia sering ditinggalkan oleh bapaknya itu.
Begitu pula ketika babu yang bernama Nyi Kin, pergi tanpa pamit ,ia seolah kehilangan sesuatu yang amat berharga dalam hidupnya. Ketika hal itu ditanyakan pada ibunya,ibunya hanya menjawab bahwa ia sedang sakit dan tidak akan kembali lagi kemari.

Hubungan cerpen dengan kondisi sosial dan pandangan dunia pengarang

Berdasarkan apa yang yang diperjuangkan Pramoedya, ia adalah sosok yang menganggap kesejahteraan hidup di dunia ini merupakan hal yang paling utama dan tidak memperkaya diri sendiri dengan apa yang bukan haknya, individualis, dan humanis. Hal itulah yang menjadi pandangan Pramoedya dalam melihat kehidupan bangsa Indonesia (Widiatmoko. 2004: 92). Mengacu pada asumsi tersebut, Pramoedya dalam cerpen Yang Sudah Hilang mencoba melukiskan bagaimana kehidupan keluarga tahun 1950-an. Lengkap dengan bayang-bayang mitos, bagaimana seorang tuan berdialog dengan babunya, dancerita-cerita kerajaan.
Tokoh Bunda yang diciptakan Pramoedya dalam cerpen Yang Sudah Hilang berhasil mewakili konflik-konflik batin yang dialami oleh perempuan dan keluarganya pada masa itu. Bagaimana tokoh Bunda digambarkan sebagai tokoh yang mampu menguatkan anaknya meskipun ia sendiri beberapa kali menangis. Sedangkan tokoh Nyi Kin juga mampu menggambarkan bagaimana seorang perempuan harus menjadi korban sejarah hingga terkena penyakit sipilis.

Genesis Cerpen Yang Sudah Hilang

Setelah melihat semua unsur pendukung cerpen Yang Sudah Hilang, dapat dicari genetis (asal-usul) cerpen tersebut. Cerpen Yang Sudah Hilang dapat dikatakan lahir dari rasa humanis pengarang yang tidak menginginkan adanya penindasan terhadapndan menginginkan adanay persamaan hak antar individu.
Tokoh-tokoh dalam cerpen Yang Sudah Hilang berhasil mencerminkan kondisi keluarga pada masa itu.

Kesimpulan

Hasil kajian terhadap cerpen Yang Sudah Hilang menggunakan analisis strukturalisme genetik menunjukkan bukti bahwa pada tahun 1950-an masyarakat Blora masih percaya kepada mitos, masih terdapat korban kawin paksa, dan menjadikan perempuan sebagai korban rumah tangga. Hal tersebut membuat kaum perempuan harus tegar.
Kondisi tersebut memunculkan kegelisahan bagi Pramoedya bahwa harus ada keberanian dan keteguhan pada diri perempuan sehingga berani mengambil keputusan seperti yang dilukiskan Pramoedya dalam tokoh Bunda. Dalam cerpen Yang Sudah Hilang Pramoedya menunjukan nasib tragis yang harus dialami oleh perempuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s