Saya Menemukan Tiga Sosok Luar Biasa di Maulud Akbar Bersama Habib Lutfi

GambarAda tiga sosok yang saya kagumi ketika digelar Maulud Akbar di klaten, malam minggu kemarin. Beliau adalah kang Markun, kang Seto, dan kang Ozzy. Ketiganya merupakan dokumentator tidak resmi, tidak diundang, dan (otomatis) tidak mengharapkan dibayar. Mereka mendokumentasikan acara tersebut atas dasar cinta yang tentu tidak dapat dituliskan dengan bahasa apapun.

Kang Markun merupakan sahabat dan guru saya. Sejak bertemu di Facebook sekitar setengah tahun yang lalu, beliau mengajari saya tentang istikomah dan kerendahan hati. Beliau juga yang mengajari saya tentang karakter seorang ‘cantrik’ dalam khasanah pendidikan Jawa Kuno. Menariknya, karakter tersebut tidak ditunjukkan melalui ceramah yang berbusa-busa. Karakter cantrik ia tampilkan langsung dalam totalitas yang utuh terhadap majlis.

Lain dengan kang Markun yang sudah sering ‘kopi darat’ karena kebetulan tinggal satu kota, saya baru bisa bermuwajahah (tatap muka) dengan Kang Ozzy pada bulan April. Bertepatan dengan Bedah buku Adab Nabi yang diselenggarakan Maluna Habib Noval. Akan tetapi, baru malam minggu kemarin kami bisa bercakap dalam tempo yang cukup lama. Terus terang, saya mengagumi beliau dari dua sisi. Sisi pertama, saya mengagumi keredahhatian beliau yang bagi saya merupakan suatu cermin dari kesiapan beliau untuk menjadi seorang guru sejati. Kedua, saya mengagumi kehati-hatian beliau dalam berucap. Bagi saya yang masih sangat awam, kehati-hatian tersebut tentu dihasilkan dari proses ‘merguru’ dan olah hati yang cukup panjang.

Untuk kang Seto, pada awalnya  saya mengenal nama beliau melalui beberapa kajian Habib Noval. Awalnya saya melihat kang Seto sebagai ‘artis’ atau ‘manusia super’ yang sangat dibanggakan oleh Maulana Habib Novel. Tapi ketika malam minggu lalu mendapat kesempatan untuk bercakap cukup lama dengan beliau, ternyata dia berhasil menyembunyikan ke-super-annya dengan sikap yang nyaris sempurna. Luar biasa. Sosok yang dielu-elukan oleh seorang guru besar sama sekali tidak menunjukkan sikap angkuh dan sombong. Dalam kesederhanaan yang luar biasa, kang seto (entah disengaja atau tidak) mengajari saya tentang keyakinan yang total terhadap takdir. Bagi saya beliau merupakan sosok yang ambisius dan cerdas, tetapi tidak ingin terburu-buru dalam merealisasikan semua mimpi yang ada di benaknya. Ia memilih langkah bertahap yang sangat luar biasa karena setiap tahapannya telah dimengerti dengan baik.

—Itulah sedikit catatan saya tentang Maulud Akbar bersama Habib Lutfi bin Yahya (18 Mei 2012) di Masjid Raya Klaten. Mudah-mudahan catatan yang sangat subjektif ini tidak membawa dampak negatif ketiga orang yang saya sebutkan di atas.—-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s