perjumpaan

PERJUMPAAN

(Untuk Iis)

;\;

;

Di bawah matahari kita bersua:

kembali

aku melihatmu sebagai sesuatu yang tertunda:

tugas yang belum selesai

kau masih seperti dulu:

gadis kecil yang agresif

menjadikan rakyat sebagai tuanmu

mulanya memang hanya ilusi

dua tabir yang terpecah menjadi saksi atas kita:

rasa tanpa berniat melingkarkan cincin di jemari

pertemuan tanpa niat menelanjangi

aku pun diam,

mendengar ulasanmu tentang masa yang pernah kita lewati

darah dan kehidupan

pedang dan tasbih

takdir dan pemaksaan atasnya

orang-orang tergeletak di pinggir jalan

keadilan yang belum khatam ditegakkan

menjadi saksi atasmu dan ku

Jogja,29 Juni 2009

hari yang melelahkan

beberapa hari terakhir mata dan otakku menghamba pada komputer. menyelesaikan sebuah laporan. fiuh. laporan. manusia dan kemanusiaan. air dan luka.

sebenanya sejak kapan manusia harus melaporkan sesuatu dengan verbal dan bukti-bukti instan? seolah manusia tidak mengakui lagi adanya sasmita dan logika. jika aku melakukan solat lengkap dengan sujud, bukankah sudah bisa disimpulkan bila aku Islam? tak perlu ditulis Islam pada KTP.  tapi ya sudahlah, itu seolah telah menjadi bagian dari ritme kehidupan itu sendiri. sehingga kurang absah jika seorang yang beragama Islam tidak berteriak di pinggir jalan ALLAHU AKBAR!!! berkali-kali dengan urat leher yang mencuat. padahal tanpa bertakbir sekalipun, Gusti itu ya sudah besar. jangan pikir kamu bisa membesarkan Gusti, seolah kau lebih gusti. dan ketika aku mengambil air di sebuah tempat keramat untuk mengobati si sakit, aku sudah dinyatakan musrik. menuhankan air keramat meskipun aku sudah membaca syahadat sebelum mengambil air tersebut. kenapa jadi campur aduk begini? padahal niatku mengambil itu juga hanya sebagai media saja, aku tetap meyakini Gusti kang nguasani jagat lah yang menyembuhkan. memang apa bedanya kau ke dokter dengan ke makam leluhur yang punya kedekatan dengan Gusti? sama-sama hanya sebagai perantara bukan?

kenapa aku jadi ngomongin ke agama ya?hahahahaha. apa jangan-jangan aku yang setan?karepmulah. hahahahaha. aku setan, aku setan, aku setan,aku setan. hahahahahahahahaha. aku setan, aku setan,

AKU SETAN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

“Ini pak Bos, laporan sudah selesai. silahkan diperiksa, diamati dengn teliti. semuanya sudah sesuai dengan uang yang anda beri. jika kemarin aku membayarimu makan di angkringan dengan uang projek tentu tidak kulaporkan. begitukan maumu?”

hahahahahahahahahahaha.

hidup uang!!!!!!!!

Hidup uang yang maha diraja!!!!!!!!!!

hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha

ayo kita beli tuhan, yang murah saja, yang penting sakti dan multi fungsi. sukur bisa kita suruh-suruh. jadi mobil bagusmu tidak pernah kena air hujan. bukan tuhan yang cerewet, ini ndak boleh itu nggak boleh. atau biar ngirit kamu nyembah aku saja, hahahahahahahahahahahahahahahaha.

oalah pak bos, pak bos. mukamu lucu sekali  seperti Calon Arang yang belum bisa menari,

kisah

pena: Pekik Nursasongko

Cahaya itu enggan berhenti

sangat cepat

dia lewat begitu saja

semalam

mataku hanya menangkap ekornya

berbentuk trisula bermata tiga

sedang cahaya itu berlari menuju peraduan

dimana Sang bertahta

mewahyukan semesta

ya-ya ya

Mingkar mingkuring angkara,
Akarana karanan mardi siwi,
Sinawung resmining kidung,
Sinuba sinukarta,
Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung
Kang tumrap neng tanah Jawa,
Agama ageming aji.

Nggugu karsaning priyangga,
Nora nganggo peparah lamun angling,
Lumuh ing ngaran balilu,
Uger guru aleman,
Nanging janma ingkang wus waspadeng semu
Sinamun ing samudana,
Sesadon ingadu manis
 

 

Si pengung nora nglegawa,
Sangsayarda deniro cacariwis,
Ngandhar-andhar angendhukur, Kandhane nora kaprah,
saya elok alangka longkanganipun,
Si wasis waskitha ngalah,
Ngalingi marang si pingging.
 

 

Mangkono ngelmu kang nyata,
Sanyatane mung weh reseping ati,
Bungah ingaran cubluk,
Sukeng tyas yen denina,
Nora kaya si punggung anggung gumrunggung
Ugungan sadina dina
Aja mangkono wong urip.

Urip sepisan rusak,
Nora mulur nalare ting saluwir,
Kadi ta guwa kang sirung,
Sinerang ing maruta,
Gumarenggeng anggereng
Anggung gumrunggung,
Pindha padhane si mudha,
Prandene paksa kumaki.

Kikisane mung sapala,
Palayune ngendelken yayah wibi,
Bangkit tur bangsaning luhur,
Lha iya ingkang rama,
Balik sira sarawungan bae durung
Mring atining tata krama,
Nggon anggon agama suci.

….

 

ya-ya ya. akulah kebodohan itu sendiri. akulah kelemahan itu sendiri.akulah kesombongan itu sendiri.akulah kebohongan itu sendiri

ya-ya-ya. aku memang hanya pembual yang merusak keseimbangan semesta. mengaku pintar agar dipuji. mengaku kuat agar dihargai. mengaku raja agar dihormati. mengaku nabi agar diberkati. mengaku tuhan agar disembahi.

ya-ya-ya.otakku dan jiwaku masih teramat kotor dan menjijikkan. tapi dengan seenaknya kupakai jubah malaikat. agar nampak sebagai seorang pandita. agar semesta tunduk. tak peduli apa kata mereka dibelakangku sembari menghunus trisula.

ya-ya-ya. ijinkan aku berguru kepadamu, agar dapat membaca. alif-ba-ta. a-b-c. setunggal-kaleh tigo.

ya-ya ya. izinkan aku berguru kepadamu, agar dapat menghitung. berapa biji nasi yang telah menguap bersama kesiasiaan di nafasku. berapa udara yang mengamuk sebab tak kunafkahi sebagaimana istriku yang lain. berapa jengkal tanah yang menggerutu, sebab aku tak juga memeluknya bersama kesunyian. berapa besar api yang padam sebelum sempat berbakti membakar nodaku.

ya-ya ya. izinkan aku nyantri kembali. sebelum habis pongahku pada kesempurnaan. cambuklah sesukamu. cacilah sekehendakmu. bentaklah semaumu. berharap dapat menjilat sedikit saja alat untuk membaca dan bergumul dengan kesejatian,

sebab si togog ini memang terlampau bodoh dihadapan kearifan dan keluasanmu:

Pangeran Adipati Arya Sri Mangkunegoro IV

 

Jinejer neng Wedatama
Mrih tan kemba kembenganing pambudi
Mangka nadyan tuwa pikun
Yen tan mikani rasa,
yekti sepi asepa lir sepah, samun,
Samangsane pasamuan
Gonyak ganyuk nglilingsemi.
 

 

eksploitasi atas luka

Eksploitasi atas Luka

pena: Pekik Nursasongko

oalah. Luka–luka. kasian banget si kamu sekarang. nggak pernah lagi ditimang-timang dan disayang-sayang. padahal dulu kamu dimanjakan. setiap kamu datang, selalu ada persembahan air mata, atau sekadar memaki. tapi sekarang, kau tak lebih dari diksi ‘luka’ itu sendiri.

habis bagaimana lagi. ketika kamu semakin puas tertawa atas setiap persembahan air mata, kami justru banyak belajar. kamu lemah dan bodoh, ketika persembahan itu datang, kau timpakan lagi sakit dan kecewa baru, dan itulah yang akhirnya membuat kami tersadar. bahwa ketakutan akan kedatanganmu itu sebenarnya hanya bayangan saja. yupz. takut akan kelaparan, kesedihan, kematian, kehilangan, itukan hanya bayangan. toh mentok-mentoknya kamu hanya mengirimkan kematian sebagai ajian pamungkas. ya to? padahal kematian itu lo apa? hidup dan matikan hanya peristiwa saja. jika jurus terhebatmu sudah dianggap ringan, apa lagi yang ditakutkan. bahkan seorang saudara baru saja mengatakan bahwa luka adalah pelangi. nek wes nganggep raimu ki pelangi, koe arep ngopo maneh? ha?

koe arep teko yo malah kebeneran, tak ngge sinau ngasah urip.

tawar menawar

ketika ada seorang mengeluh kesakitan

kunyatakan Tuhanku

ketika ada seorang berdebat soal ideologi

kutawarkan Tuhanku

ketika ada seorang mengacungkan senjata

kuberikan Tuhanku

ketika ada seorang menjadikan saudaraku sebagai Tuhan

haruskah kujual Tuhanku?

menjawab komen seorang saudara, 30 nov ’08

hingga suatu ketika

aku tak butuh alasan untuk menerima nama-nama baru sebagai bagian dari hatiku. keluarga baru tepatnya. ya. merekalah orang-orang yang sampai detik ini kupandang  sebagai teman terbaik.

saudara,

aku tak butuh apa dan mengapa

semenjak terbangun dan kita meminum darah yang sama:

leluhur yang dipertuankan

luka dan tawa kita bawa bersama

sembari tangan mengepal

tanpa lupa sedikitpun kepada Zat yang menguasai jagad raya

28 Nov 2008